Mohon tunggu...
HIDAYATUL IRYANAH
HIDAYATUL IRYANAH Mohon Tunggu... Guru - Guru_Pengurus KKG_Pengurus LPAY Nashrul Aitam

Saya seorang guru senang dunia pendidikan, sosial, sastra dan seni. Saya bertugas di UPT SD Negeri 79 Gresik Jawa Timur

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Koneksi Antar Materi Modul 2.3

2 Juli 2023   16:22 Diperbarui: 2 Juli 2023   16:56 108
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Oleh HIDAYATUL IRYANAH, SP. S.Pd

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 7 KABUPATEN GRESIK

Bapak Hariyanto, S.Pd (Fasilitator)       Ibu Rahmawati, s.Pd (Pengajar Praktik)

Coaching merupakan proses kolaborasi yang fokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari sang coachee (Grant,1999)

Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada murid. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif, Coaching dalam proses pendidikan menjadi pamong dalam system among sesuai  pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) dengan maksud mewajibkan guru supaya mengingati dan mementingkan kodrat-iradatnya anak-anak, dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilinginya.

  • Peran Guru dalam Coaching

Guru sebagai ujung tombak pendidikan sangat penting memiliki kemampuan coaching dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai pendidik.  

Dalam proses coaching,  guru sebagai coach bagi muridnya.  Sebagai coach guru harus mampu menuntun murid melalui percakapan efektif, memberikan pertanyaan reflektif agar murid dapat mengungkapkan hal-hal yang dialaminya sehingga murid dapat memaksimalkan potensi pribadinya melalui percapakan tersebut. Pada prinsipnya seorang coach harus menjalin komunikasi yang baik dengan  coachee-nya, melaksanakan percakapan kreatif yang membangun dengan orientasi kepada masa depan sehingga pada akhirnya memaksimalkan potensi pribadi coachee.

Kompetensi yang perlu dimiliki seorang coach yakni kehadiran sepenuhnya (presence), mendengarkan aktif (menghindari asumsi, judgement, labeling, dan asosiasi), serta menggunakan pertanyaan berbobot.

Salah satu cara agar kita dapat fokus pada saat mengajukan pertanyaan berbobot adalah menggunakan alur RASA (Receive, Appreciate, Summarize and Ask. )

  • Receive (terima) : Coach harus dapat mendengarkan dan menerima semua yang disampaikan oleh chocee
  • Appreciate : kita dapat mengapresiasi dengan merespon apa yang disampaikan oleh coachee.
  • Summarize : menyampaikan kesimpulan dengan menggunakan kata kunci yang disampaikan oleh coachee sekaligus mengkonfirmasi apa yang telah kita simpulkan.
  • Ask :  sebagai coach dapat mengkonfirmasi informasi yang disampaikan coachee, dan juga menggali informasi dengan menanyakan pertanyaan - pertanyaan berbobot.
  •  
  • Salah satu contoh percakapan coaching yang dapat dilakukan yaitu percakapan coaching dengan alur TIRTA. Alur TIRTA ( Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi dan Tanggung jawab)
  • Tujuan
  • Fokus coach adalah menyepakati tujuan dari percakapan yang dilakukan.
  • Identifikasi
  • Coach harus melakukan penggalian informasi atas permasalahan yang
  • disampaikan coachee, memetakan situasinya berdasarkan informasi yang disampaikan oleh coachee.
  • Rencana Aksi 
  • Percakapan berfokus pada rencana aksi yang akan dilakukan oleh coachee dalam menyelesaikan permasalahan atau memaksimalkan potensi pribadinya.
  • Tanggung jawab 
  • Membuat komitmen terkait langkah yang akan diambil selanjutnya.

  • Dalam pemahaman materi coaching ini, saya menemukan bahwa hal yang sudah baik berdasarkan pengalaman penulis  selama menjadi coach bagi murid adalah telah melakukan percakapan coaching dengan alur TIRTA yang sistematis sehingga menuntun murid untuk menemukan potensi yang dimiliki untuk dikembangkan, murid merasa bahagia setelah bercakap-cakap dengan guru dalam kegiatan coaching, dan sebagai guru juga merasa senang dapat membuat murid bahagia. Hal yang masih perlu diperbaiki adalah  menghindari asumsi, judgemen, labeling dan assosiasi dalam kompetensi mendengar aktif. Guru masih perlu sering berlatih menjadi coach yang benar-benar mendengarkan aktif dengan menghindari asumsi, judgement, labeling, dan assosiasi agar tercapai tujuan coaching dengan baik.

Keterkaitan materi coaching dengan materi pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional sangat erat yakni,

  • Pembelajaran berdiferensiasi. 

Dalam materi pembelajaran berdiferensiasi, sebagai guru harus berusaha melakukan penyesuaian terhadap murid agar dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan murid yang beragam. Guru harus dapat memetakan kebutuhan belajar muridnya berdasarkan aspek kesiapan, minat dan profil belajar. Dengan gambaran tersebut guru dapat memiliki gambaran dalam mengoptimalkan pembelajaran. Guru dapat melakukan proses coaching kepada murid berdasarkan kebutuhan setiap muridnya agar guru dapat mengembangkan dan menggali potensi, minat dan bakat secara optimal. 

Materi Coaching sangat membantu dalam implementasi berdiferensiasi.  Pengalaman melakukan kegiatan coaching dengan murid untuk menentukan minat belajar siswa. Saya mengajar di kelas 4 SD , saat saya memberikan angket untuk observasi minat belajar siswa, sebagian besar anak-anak masih belum bisa mengungkapkan secara pasti minat belajarnya, mereka terkadang terpengaruh dengan minat teman lainnya sehingga jawaban sebagian besar memiliki persamaan minat tanpa mengetahui potensi yang dimilikinya. Melalui kegiatan coaching satu persatu anak sudah mulai bisa menentukan minat yang sesuai potensi yang dimilikinya.

  • Pembelajaran sosial emosional

Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk memberikan pemahaman,

penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi, menetapkan dan mencapai

tujuan positif, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain, membangun

dan mempertahankan hubungan yang positif serta membuat keputusan yang

bertanggung jawab. Proses coaching dalam PSE ini dapat menjadi modal besar

dalam menjadi seorang coach. Menjadi seorang coach guru harus mampu

berempati kepada murid yang menjadi coachee, membangun hubungan

positif dengan murid, dan memunculkan kesadaran diri penuh selama proses coaching.

  • Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran.

Coaching merupakan salah satu proses yang dilakukan untuk dapat menggali dan

memaksimalkan potensi pribadi. Proses coaching melalui supervisi akademik bertujuan memastikan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan berpihak kepada murid, dari sini dapat diketahui bahwa kegiatan coaching juga dapat menjadi salah satu proses perbaikan diri kita sebagai seorang pendidik.

Guru yang baik adalah guru yang senantiasa berefleksi dan tak henti melakukan perbaikan dalam kegiatan pembelajarannya sehingga dapat mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dan keselamatannya.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran sangat penting memiliki keterampilan coaching untuk meningkatkan 4 kompetensinya yakni kompetansi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.

Sekian

Terima kasih

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun