Tak aku peduli dengan anak-anak ingusan itu, dengan segera ku ambil roti yang jatuh dari lengserku dan ku susun kembali dan melanjutkan perjalanan untuk jualan.
Berjualan roti masa kecil adalah salah satu pembelajaran hidup. Dari berjualan roti kami tahu bahwa mencari uang itu tidak mudah. Butuh usaha dan kerja keras. Roti 20pcs saja kami harus keliling dari satu tempat ke tempat lain, kadang ditipu, ditawar-tawar tapi tidak dibeli, kadang mau dibeli harus pakai syarat.
Ada pembeli yang memiliki syarat, sore itu aku jualan sampai pasar wetabua, ini sudah sangat jauh dari rumahku. Ada seorang bapak yang menggunakan baju dalam warna putih dan celana pendek selutut, dia keluar dari rumahnya dan memanggil.
"Eh kamu, yang jual roti, sini."
Dengan senang hati aku mendekat, tentu dengan harapan roti akan dibeli.
"Aku mau beli rotimu, tapi kamu harus bisa buka pagar rumahku dulu."
Saat itu aku sangat kesal, pagar yang disuruh buka ternyata sulit sekali untuk dibuka, mungkin hanya tuan rumah saja yang bisa membuka pagar yang terbuat dari bambu itu, awalnya aku berpikir akan mudah membukanya, tapi bayanganku salah, pagar itu malah membuat aku malu karena tidak bisa membukanya. Sang pemilik rumah pun berkata.
"Kalau kamu tidak bisa membukanya, aku tidak jadi beli rotinya."
Rasanya pengen nangis waktu itu, anak kecil seperti aku yang masih lugu tak tau apa-apa nurut aja apa yang diinginkannya. Aku berusaha untuk membukakan pagar itu dengan perlahan. Akhirnya, pagar pun terbuka, dan aku masuk dengan hati yang lega.
"Ah, akhirnya terbuka juga," kataku dalam hati, dengan mengharap si bapak akan membeli roti dengan jumlah yang banyak.
"Wah, berhasil juga," kata bapak bercelana pendek itu sambil merogok uang di kantong celananya.