Peluang MU untuk lolos ke babak berikutnya sangatlah kecil. Ketika leg pertama berakhir, salah satu media pun melakukan wawancara dan melemparkan satu pertanyaan umum kepada Ole, "Bagaimana anda akan merespon kekalahan ini?" Ole menjawab "Gunung diciptakan untuk didaki bukan?" lantas semua orang mengira ini hanyalah optimisme belaka Ole dalam merespon kekalahan.Â
Atau bahkan Ole hanya ingin meresponnya dengan sisi positif kekalahan skuadnya atas PSG yang bisa dibilang diatas kertas. Mereka harus mencetak minimal tiga gol untuk bisa lolos. MU tentu akan kesulitan melawan dan mengalahkan PSG yang sedang on-fire, ditambah bermain Paris. Akan menjadi momok menakutkan bagi tim yang bertandang ke sana. Namun semua itu salah.
Ole membawa lima pemain muda didikan asli akademi ke Paris yang belum mengecap atmosfer gila Liga Champions, sebut saja Tahith Chong, James Garner, Angel Gomes, Mason Greenwood, dan Brandon Williams.Â
Bermodalkan semangat dari anak-anak muda Manchester, optimisme Ole dan mental sejarah MU selama berkompetisi di turnamen tersebut, mereka lalu berangkat ke Paris dengan motto Nothing to Lose.Â
Laga berlangsung cepat dengan Lukaku yang memanfaatkan kesalahan Kehrer dan mampu menyarangkan gol ke jala tim tuan rumah, dibalas oleh Juan Bernat setelah menerima umpan Mbappe. Sebelum akhirnya Lukaku mencetak brace yang lagi-lagi memanfaatkan kesalahan Buffon yang tidak sigap untuk menepis knuckle-shot dari Rashford. Skor berakhir 1-2 di babak pertama. Di babak kedua, Ole pun memasukkan Tahith Chong dan Mason Greenwood.Â
Greenwood menjadi pemain termuda dalam sepanjang sejarah klub yang bermain untuk MU di kompetisi tersebut dengan umur 17 tahun 156 hari, mematahkan rekor yang dipegang oleh Gerard Pique yang berumur 17 tahun 310 hari.Â
Pertandingan di kota Paris yang sedang gerimis tersebut diakhiri dengan indah oleh penalti Rashford. Sepakan keras ke pojok kanan Buffon yang tak mampu ditepis kiper gaek tersebut. Skor berakhir 1-3, MU lolos kebabak berikutnya. Kembali, Ole pun mencatatkan rekor. Mampu comeback setelah tertinggal dengan defisit dua gol di kandang.
Tentu saja resep Ole sederhana, menampilkan kembali karakter lama MU. Yaitu bermain menyerang dan menyajikan permainan yang atraktif dan memberi kesempatan pada para pemain akademi yang sudah menjadi tradisi.Â
Tentu saja untuk dua bulan pertama, menjadi waktu yang sangat menyenangkan bagi para fans Setan Merah. Ole sanggup menghidupkan kembali aura klub yang sudah lama hilang sepeninggal Ferguson. Chant "Ole's at wheel" mendengung di seantero Britania Raya hingga ke seluruh dunia.Â
Pogba, yang disebut sebagai pemain yang paling bermasalah sepanjang musim, menjelma menjadi pemain kunci. Kembali mengeluarkan tajinya dibawah Ole dan mencatatkan 11 gol dan 7 assists, berbeda ketika dipegang Mourinho sebelumnya yang hanya mencatatkan 5 gol dan 4 assists. Pogba kembali diandalkan sebagai pengatur lini serang yang efektif dan efisien.
Dengan performa yang bisa dibilang cukup memuaskan, membuat manajemen membuat kesepakatan kontrak kepada Ole untuk menjadi manajer resmi, yang sebelumnya menjabat sebagai caretaker.Â