Dengan demikian, kemuliaan perempuan di dalam Islam akan dilihat dari keberhasilan dia menjalankan peran domestiknya sebagai al-um warabatul bait dan madrasah utama. Serta peran publiknya sebagai entitas masyarakat yang melakukan amar makruf nahi mungkar. Sejarah sudah membuktikan, penerapan syariat terkait perempuan ini ketika dijalankan oleh individu, masyarakat bahkan negara yakni  selama 1300 tahun,  perempuan hidup dalam kemuliaan. Tidak seperti perempuan yang hidup dalam sistem kapitalisme saat ini. Mereka dinistakan, dilecehkan, dihinakan  direndahkan .
Sayangnya, apa yang terjadi hari ini, kita sebagai negeri mayoritas muslim justru  mengambil standar, ukuran-ukuran yang digunakan oleh peradaban barat yaitu  kapitalisme. Termasuk dalam mengukur kesuksesan pembangunan  dengan menggunakan ukuran-ukuran standarnya  IPG yang didapatkan dari UNDP. Paradigma pemberdayaan ekonomi pun terjebak pada konsep yang ditawarkan barat melalui World Bank salah satunya.  Padahal berbagai standar tersebut tentu erat kaitannya dengan kepentingan kapitalisme dibandingkan kepentingan hakiki bangsa ini. Saat IPG meningkat, justru bertolak belakang dengan kondisi masalah perempuan dan generasi yang makin miris dan melesat. Bukankah ini nilai kesuksesan yang semu?
Bukankah sudah selayaknya kita sebagai muslim mencukupkan diri pada berbagai aturan dan standar yang ditetapkan syariat?. Sejarah kegemilangan islam telah mencontohkan, bagaimana penerapan islam kaffah telah memberikan kemuliaan bagi umat dan bangsanya. Islam memiliki seperangkat sistem konstruksi yang telah terbukti mampu membangun generasi tangguh dan unggul. Tidakkah kita menginginkannya?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H