Beberapa malam ini aku sengaja tidak menelpon Kinanti. Sudah tiga malam dan ini malam yang ke empat. Padahal sebelumnya hampir setiap malam aku ngobrol dengan Kinanti melalui ponsel.
Aku hanya ingin tahu apakah Kinanti rindu denganku ataukah tidak. Apakah Kinanti merasa kehilangan aku ataukah tidak. Metode lamaku kembali aku jalankan.
Aku bisa mengetahui bagaimana nanti Kinanti bersikap. Â Dari sana aku bisa menebak isi hatinya.
Sebenarnya saat ini aku tahu Kinanti memang sedang butuh kehadiranku. Hanya saja aku tidak mau jika itu sekedar dijadikan tempat untuk pelarian kekecewaanya terhadap Eko yang menghianatinya.
Malam yang melelahkan dan ternyata telepon yang aku tunggu tidak pernah berbunyi. Kemana Kinanti? Kok malah aku yang rindu padanya?
Jumat pagi ini seperti biasa, lalu lintas Kota Surabaya padat penuh dengan semangat. Motor-motor seakan berkejaran dengan waktu sedangkan mobil harus banyak mengalah untuk memberi jalan. Kemacetan seakan sudah menjadi ritual sehari-hari.
Alhamdulillah pagi itu aku sudah tiba di ruang kerjaku. Aku menyusun agenda hari ini. Mengisi kuliah di Pasca Sarjana sampai pukul sebelas siang.
Sorenya ada pengamatan data penelitian mahasiswa di Laboratorium Instrumen. Ketika aku sedang mempersiapkan bahan untuk mengisi kuliah tiba-tiba ponsel berdering. Ternyata Intan yang menelpon.
"Hallo Om Alan!" Suara Intan terdengar khawatir.