Minggu-minggu terakhir ini temperatur udara mulai menurun. Saya mulai menyusun dan mengganti posisi pakaian musim panas dengan pakaian musim dingin, agar gampang dicari.
Menyortir baju paling tidak harus saya lakukan dua kali dalam setahun. Sebagian baju masuk lagi ke lemari, baju koyak dan bolong masuk tong sampah.
Bagaimana dengan pakaian yang masih bagus, tetapi tidak ingin dikenakan lagi?Â
Kalau disimpan terus akan memenuhi lemari.Â
Dulu, ibu saya selalu mengumpulkan pakaian bekas kami yang layak pakai untuk disumbangkan kepada beberapa tetangga di desa tempat kerabat tinggal. Ini memang permintaan dari mereka. Jadi, kedua pihak sama-sama nyaman. Tidak ada perasaan "direndahkan" bagi penerima, dan pemberi tidak merasa "membuang" barang tak berguna.
Kalau ibu saya punya jalan keluar seperti itu, saya memiliki jalan lain mengurangi isi lemari. Anggota keluarga dan kerabat saya tidak banyak di sini. Ada pilihan yang bisa dilakukan, misalnya;
Sekarang banyak toko secondhand bertebaran, bahkan yang online. Pakaian bekas bisa dijual di toko secondhand dengan cara menitipkan ke toko, atau mandiri dengan menggunakan aplikasi yang tersedia.Â
Pilihan lain bisa dijual langsung kepada konsumen dengan membuka lapak di Flohmarkt. Kedua cara ini tidak saya lakukan karena agak merepotkan.
2. Disumbangkan ke lembaga sosialÂ
- Sumbangan langsungÂ
Di Jerman, ada lembaga sosial kemanusiaan yang menerima langsung sumbangan pakaian. Karena sumbangan langsung, mereka hanya menerima sumbangan yang dibutuhkan. Kita tidak bisa datang begitu saja tanpa ada janji temu, bisa dilakukan lewat telepon atau email.Â