Mohon tunggu...
hendra setiawan
hendra setiawan Mohon Tunggu... Freelancer - Pembelajar Kehidupan. Penyuka Keindahan (Alam dan Ciptaan).

Merekam keindahan untuk kenangan. Menuliskan harapan buat warisan. Membingkai peristiwa untuk menemukan makna. VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Konsistensi Menulis, Tak Semudah Harapan (Catatan Karya ke-400)

24 Juni 2021   16:30 Diperbarui: 24 Juni 2021   16:39 196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi menulis (sumber: pixabay.com/hudsoncrafted)

Konsisten. Konsistensi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "Konsistensi" adalah ketetapan dan kemantapan dalam bertindak. Maksudnya, ketika seseorang 'konsisten', berarti dia mantap dalan melakukan suatu hal secara terus-menerus.

Apakah konsistensi ini bisa dijalankan di kanal media tulis bersama bernama Kompasiana ini? Itu yang juga jadi bahan pergumulan dan pertimbangan seseorang ketika memutuskannya.

Pasti tidak akan mudah. Setiap penulis pasti akan punya alasan masing-masing. Mungkin ada kesamaan, tapi mungkin juga bisa berbeda. Misalnya alasan itu adalah:

1. Asah Keterampilan

Menulis di tempat ini buat sarana untuk mengasah keterampilan menulis. Sebab kalau membuat blog sendiri, yang melihatnya jarang. Paling teman-teman terdekat, dan itupun tidak setiap saat.

Berhubung jumlah penggemar dan pembacanya sedikit, jadi beralih ke sarana yang lain. Dengan mengikuti blog bersama, kemungkinan dibacanya lebih banyak. Juga bisa mendapat teman-teman baru.

2. Peluang Dapat Hadiah

Dengan melihat nama situs atau pengelolanya, jadi tertarik. Sebab di dalamnya ada tantangan yang diberikan, yang setiap orang juga bisa mengikutinya. Jadi kemungkinan itu terbuka lebar, bukan cuma mereka yang sudah punya nama besar.

3. Buku Harian Digital

Bagi yang pernah merasakan sensasi punya "diary", menulis di dunia modern nir-kertas rasanya bisa jadi hobi dan kesibukan baru.

Kalau dulu, diary itu malah kalau bisa jangan sampai orang lain tahu, "malu". Kini diary modern justru akan membuka diri kepada publik.

Artinya, dulu menulis hanya untuk kesenangan pribadi. Sekarang harus diubah mindset-nya. Menulis juga untuk dibaca orang lain. Jadi harus bisa berpikir lebih dewasa lagi.

Tentu dengan membuka diri dari ruang pribadi ke tempat umum, harus bisa mencitrakan diri yang lebih positif. Personal branding dengan cara menulis karya untuk umum, akan dinilai oleh pembacanya.

Memang tak bisa mutlak menilai karakter seseorang dari tulisan yang hanya beberapa buah. Tetapi secara prinsip dasar bisa. Misalnya pesan-pesan atau harapan dari setiap tulisan yang dimunculkannya.

Tantangan

Belajar untuk konsisten dalam menulis memang tidak mudah. Harapan itu kadang juga hanya menjadi sebatas impian. Perlu tekad bulat mewujudkannya.

Kecuali kalau suatu ketika memang tak punya waktu longgar dalam sehari untuk menulis, bisa dimaklumi. Karena sakit, beban kerja yang menumpuk, dan sebagainya. Realis saja untuk ini. Terlebih misalnya kalau alatnya lagi rusak atau error. Itu semua sudah di luar kendali.

Namun dalam sehari itu, ada waktu cukup longgar, menyediakan diri untuk menulis, juga jadi masalah kalau tak benar-benar bisa berkonsentrasi. Bukan masalah ide yang datang. Karena ia bisa didapatkan dari mana saja, termasuk ketika sedang melihat, membaca, mendengar berita/kabar atau  mengalami langsung sebuah peristiwa.

Ini adalah tulisan ke-400 secara urutan karya di Kompasiana. Dibilang banyak, ya banyak. Dibilang sedikit, ya sedikit. Dilihat dulu perbandingannya dengan jumlah yang baru tampil atau sudah berkarya lebih dulu.

Terlepas dari soal jumlah, yang bisa dianggap penting, tapi bisa juga tidak. Justru dengan makin bertambahnya jumlah karya seperti ini, maka tantangan pun sepertinya makin bertambah berat. Soal menjaga kontinuitas dan konsistensi dalam karya tadi. Baik secara kuantitas dan kualitasnya.

Pinjam pepatah atau peribahasa, "Biar lambat asal selamat" atau "alon-alon waton kelakon" (pelan-pelan asal terlaksana). Menulis itu bukan untuk 'gagah-gagahan', jadi ajang pamer karya. Namun sebagai sarana mengasah kemampuan.  Mengelola talenta yang Dia berikan. Agar berguna bagi diri sendiri dan juga bermanfaat bagi orang lain.

Semoga corat-coret ini bisa menjadi insiprasi. Salam damai bagi kita semua....

24 Juni 2021

Hendra Setiawan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun