Mohon tunggu...
Hen Ajo Leda
Hen Ajo Leda Mohon Tunggu... Buruh - pengajar dan pegiat literasi, sekaligus seorang buruh tani separuh hati

menulis dan bercerita tentang segala hal, yang ringan-ringan saja

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Artikel Utama

Beban Ganda Lansia dan Generasi Sandwich di Indonesia

5 Juni 2024   20:56 Diperbarui: 13 Juni 2024   19:31 411
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi:Seorang nenek mengasuh cucunya di Desa Wonolelo, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah, Senin (19/8/2019). (Foto: FERGANATA INDRA RIATMOKO/KOMPAS.ID)

Belum lama kita merayakan Hari Lanjut Usia Nasional, yang diperingati setiap tanggal 29 Mei, sebagai bentuk penghormatan terhadap peran strategis lansia dalam keluarga, masyarakat, dan negara. 

Peringatan ini juga menegaskan pentingnya menghormati hak-hak asasi lansia, termasuk hak hidup, hak mendapatkan kesehatan, perlindungan sosial dan kesejahteraan.

Kendati demikian, sebagaimana uraian liputan kompas per Juni 2024, menunjukkan masalah kesejahteraan lansia menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Susenas Maret 2022, sekitar 57 juta lansia masih bekerja untuk menopang kehidupan 111 juta generasi milenial dan Z (Kompas.id, 2 Juni 2024).

Lebih lanjut dalam liputan kompas tersebut menguraikan bahwa, di Indonesia banyak lansia yang masih bekerja demi menghidupi keluarganya, termasuk anak-anak dari generasi milenial dan Z. Lansia sering kali menjadi tulang punggung keluarga, terutama dalam rumah tangga prasejahtera di mana anggota keluarga yang lebih muda belum mandiri secara ekonomi (Kompas.id, 2 Juni 2024).

Angka ini mencerminkan ketergantungan besar generasi muda pada lansia yang seharusnya sudah menikmati masa pensiun.

Berbagai fakta di lapangan menunjukkan, banya diantara lansia Indonesia yang harus menghabiskan sisa usia mereka dengan menguras energi. Meski usia sudah senja, mereka tetap bekerja demi menopang keluarganya yang belum mandiri secara finansial. Fenomena ini tidaklah unik bagi jutaan lansia, karena ditemui banyak lansia di berbagai daerah di Indonesia berada dalam situasi serupa (Kompas.id, 2 Juni 2024).

Situasi ini menunjukkan beratnya beban yang ditanggung lansia, terutama bagi mereka yang tidak memiliki dana pensiun. Hanya 5 persen dari lansia memiliki dana pensiun, sementara sisanya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ketergantungan ekonomi ini semakin kompleks ketika lansia bekerja di sektor informal yang tidak memiliki kepastian penghasilan, waktu kerja fleksibel, dan jaminan risiko kerja. 

Meskipun berbagai program peningakatan kesejahteraan masyarakat seperti JKN, PKH dan lainnya telah diimplementasi pemerintah, namun program-program tesebut belum mampu menjangkau seluruh lansia yang membutuhkan. 

Sehingga banyak lansia masih hidup dalam kondisi ekonomi sulit dan harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan dasar mereka tanpa mendapatkan perlindungan sosial yang memadai (Kompas.id, 2 Juni 2024).

Kondisi ini tentu tidak hanya menyulitkan para lansia yang seharusnya menikmati masa pensiun, tetapi juga membebani keluarga yang mengandalkan mereka untuk menopang kehidupan. Inilah potret beban ganda yang semakin terasa berat ketika lansia menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga prasejahtera.

Lansia tidak hanya memikirkan kebutuhan mereka sendiri tetapi juga kebutuhan anggota keluarga lainnya yang masih dalam usia produktif namun belum memiliki penghasilan yang cukup.

Di sisi lain, muncul fenomena "generasi sandwich", yakni generasi yang harus menanggung beban ekonomi orangtua serta anak-anak mereka. Generasi sandwich adalah istilah untuk generasi yang harus menopang kehidupan orangtua serta anak-anak mereka. 

Generasi ini menghadapi tekanan ekonomi besar karena harus membagi sumber daya terbatas untuk memenuhi kebutuhan dua generasi lainnya. Hal ini membuat mereka sering berada dalam posisi sulit secara finansial.

Berdasarkan data liputan kompas (Juni 2024) di Indonesia ada jutaan lansia yang masih membutuhkan sokongan hidup dari generasi Z dan milenial. 

Jumlah lansia di Indonesia yang hidupnya bergantung topangan penghasilan generasi Z dan milenial mencapai 5,6 juta. Lansia ini bergantung pada sokongan 4,5 juta gen Z dan milenial (Kompas.id, 3 Juni 2024).

Tekanan ekonomi ini semakin berat ketika orangtua yang ditopang tidak memiliki dana pensiun dan harus hidup dari bantuan anak-anak mereka. 

Dari 21,7 juta warga usia 60 tahun ke atas di Indonesia, hanya 1,13 juta atau 5,2 persen yang tercatat mempunyai dana pensiun (Kompas.id, 2 Juni 2024).

Generasi sandwich ini sering harus bekerja lebih keras dan mengorbankan waktu serta energi mereka untuk menghidupi keluarga. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka tetapi juga menghambat mereka dalam merencanakan masa depan lebih baik. 

Artinya bahwa, jutaan generasi sandwich yang saat ini menghabiskan sebagian besar penghasilan mereka untuk mendukung orangtua yang tidak memiliki dana pensiun, dapat mengurangi kemampuan mereka untuk menabung atau berinvestasi untuk masa depan mereka sendiri. 

Ketika mereka mencapai usia pensiun, mereka mungkin juga tidak memiliki tabungan yang memadai dan akhirnya bergantung pada anak-anak mereka. Fenomena ini akan menciptakan siklus ketergantungan antar generasi yang terus berulang dan sulit untuk diputus antar generasi.

Jika situasi saat ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi kebijakan dan program proktektif di level pemerintah dan peningkatan literasi dan manajemen tabungan di level masyarakat, maka fenomena beban ganda lansia dan generasi sandwich akan terus berulang dan dapat mempengaruhi kesejahteraan generasi mendatang. 

Maka demikian, fenomena ini menekankan pentingnya pengaturan tentang penciptaan pekerjaan, kondisi kerja serta upah rill yang layak di sektor informal akan sangat krusial, karena kondisis kerja sektor informal cenderung tidak memiliki struktur yang jelas dan regulasi ketat, membuat para pekerja di dalamnya, terutama lansia tidak memiliki kepastian penghasilan dan jaminan sosial yang memadai.

Disamping itu, peningkatan literasi keuangan menjadi sangat penting. Setiap generasi perlu dididik mengenai pentingnya menabung dan investasi jangka panjang. 

Program-program literasi keuangan yang efektif dapat membantu masyarakat setiap generasi untuk lebih siap menghadapi masa pensiun tanpa harus bergantung pada dukungan finansial dari orang tua atau anak-anak mereka kelak.

Dengan sejumlah intervensi pengaturan pemerintah, kepastikan akses ke program jaminan kesejahteraan sosial yang komprehensif dan holistik dan sistem pensiun yang lebih baik, literasi keuangan yang memadai, tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup lansia tetapi juga mengurangi beban ganda semua generasi.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun