Mohon tunggu...
Hen Ajo Leda
Hen Ajo Leda Mohon Tunggu... Buruh - pengajar dan pegiat literasi, sekaligus seorang buruh tani separuh hati

menulis dan bercerita tentang segala hal, yang ringan-ringan saja

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Mudik Lebaran Dalam Perspektif Sosial Demografi: Fenomena Migrasi Penduduk

12 Maret 2024   09:57 Diperbarui: 12 Maret 2024   10:09 484
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: https://entertainment.fin.co.id

Sebagai pengajar mata kuliah Demografi atau Studi Kependudukan, saya mencoba melihat fenomena mudik Lebaran dalam perspektif demografi, karena mudik lebaran merupakan salah satu contoh paling mencolok dari migrasi penduduk. 

Secara umum migrasi penduduk diartikan sebagai perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain, baik dalam satu negara (migrasi internal) maupun antarnegara (migrasi internasional). Migrasi penduduk dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk ekonomi, sosial, politik, atau lingkungan. 

Salah satu fenomena migrasi adalah mudik, yang berasal dari bahasa Betawi sebagai "udik" yang merujuk pada wilayah spasial desa maupun kampung pinggiran. Meng-udik atau mudik dapat dipahami secara harafiah sebagai menjadi kampung atau kembali ke kampung (https://kompaspedia.kompas.id, 2023).

Di Indonesia, fenomena mudik lebaran adalah tradisi, dimana masyarakat berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk berkumpul, bersilahturahmi, dan berziarah dengan keluarga besar dan sanak saudara. Sekitar satu minggu sebelum lebaran, para perantau berbondong-bondong meninggalkan ibukota dan kembali ke kampung halaman.

Dalam perspektif demografi, fenomena mudik lebaran merupakan migrasi penduduk yang terjadi setiap tahun pada periode hari raya keagamaan Idul Fitri (https://www.beritasatu.com, 2023).

Sebagau peristiwa sosial dan demografis yang menarik untuk diamati, mudik Lebaran mencerminkan dua fenomena penting: migrasi urban-rural dan mobilitas penduduk.

Pertama, migrasi urban-rural terjadi ketika penduduk perkotaan kembali ke desa atau kampung halaman mereka selama musim mudik. Hal ini mencerminkan adanya keinginan untuk kembali ke akar budaya dan tradisi serta merayakan Lebaran dengan keluarga di tempat asal mereka. Migrasi urban-rural juga dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ekonomi dan sosial di daerah pedesaan.

Kedua, mobilitas penduduk terlihat dalam volume besar orang yang melakukan perjalanan selama musim mudik Lebaran. Ribuan orang melakukan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lainnya, menciptakan arus lalu lintas yang padat dan mempengaruhi infrastruktur transportasi.

Mobilitas penduduk ini juga menunjukkan elastisitas dan fleksibilitas penduduk dalam menyesuaikan diri dengan kondisi sosial dan ekonomi yang berubah.

Dari sudut pandang demografi, mudik Lebaran juga dapat memberikan wawasan tentang karakteristik demografis penduduk Indonesia. Misalnya, tren usia dan jenis kelamin dari para pemudik dapat mencerminkan struktur demografis populasi Indonesia secara keseluruhan.

Selain sebagai fenomena migrasi, mudik juga memiliki dampak positif pada aspek ekonomi masyarakat, terutama dalam hal pemerataan ekonomi antara daerah perkotaan dan pedesaan (Karimullah, 2021) . 

Ada beberapa alasan mengapa mudik dapat memberikan dampak positif secara ekonomi yang penulis sarikan dari berbagai sumber:

  1. Aliran Uang: Mudik mempercepat aliran uang dari kota ke desa. Ketika pemudik pergi ke desa sebagai tujuan mudik, mereka membawa uang yang mereka peroleh di kota untuk digunakan selama masa liburan. Uang yang dibawa oleh pemudik ini kemudian dihabiskan di desa untuk berbagai kebutuhan seperti penginapan, makanan, oleh-oleh, dan layanan lokal lainnya. Hal ini dapat meningkatkan pendapatan bagi penduduk lokal di desa dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

  2. Pendorong Aktivitas Ekonomi: Kehadiran pemudik juga dapat memicu pertumbuhan aktivitas ekonomi di desa, karena meningkatnya permintaan akan barang dan jasa selama musim mudik. Pedagang lokal dan pemilik usaha kecil di desa bisa mengalami peningkatan dalam penjualan mereka selama periode mudik.

  3. Peluang Bisnis: Fenomena mudik juga menciptakan peluang bisnis baru di desa, seperti usaha penyewaan kendaraan, penginapan, atau penjualan oleh-oleh khas daerah. Ini dapat memberikan penghasilan tambahan bagi penduduk desa dan memperluas basis ekonomi lokal.

Selain itu, fenonema mudik juga memiliki masalah sosial dan eksistensial, karena berkembangnya modernitas dan perubahan dalam masyarakat urban, sehingga tradisi mudik telah mengalami pergeseran nilai.

Adrie Oktavio dan Agoes Tinus Lis Indrianto (2019) menjelaskan bahwa, mudik sering kali dipandang sebagai sarana rekreasi dan hiburan, di mana individu menggunakan kesempatan ini untuk bersantai, menikmati liburan, dan menghabiskan uang dengan berbagai cara. Selain itu, ada juga tekanan sosial yang mendorong individu untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai manusia kota yang sukses dan berhasil dengan cara menghabiskan uang secara berlebihan selama mudik.

Pergeseran nilai ini menciptakan sikap yang lebih hedonis dan konsumtif dalam pelaksanaan mudik, di mana individu cenderung fokus pada kepuasan diri sendiri dan pengalaman sensorik, daripada pada makna yang lebih dalam dari tradisi tersebut. Oleh karena itu, mudik menjadi ajang perilaku hedonis dan konsumtif, di mana individu terlibat dalam aktivitas yang mungkin tidak selalu sesuai dengan nilai tradisional yang melandasi praktik mudik (Oktavio & Indrianto 2019).

Dengan demikian fenomena mudik sebagai peristiwa sosial demografis yang terjadi selama musim Lebaran mencerminkan kompleksitas terkait dengan kependudukan, disamping mudik sebagai tradisi budaya dan keagamaan. Dalam perspektif ini, fenomena mudik memberikan wawasan tentang mobilitas penduduk, transformasi sosial berserta pergeseran dan perubahan nilai yang menyertainya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun