Mohon tunggu...
S. Haryani C.
S. Haryani C. Mohon Tunggu... Penulis - A Freelance Writer

DM for Collaborate Artikel, Esai, Puisi, Narasi, dan Notulen Pertemuan 📍 Surabaya, Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humor

Aku One Heart, Bukan Semakin di Depan

9 September 2020   02:02 Diperbarui: 9 September 2020   01:49 140
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
One Heart Now and Here (seeklogo.com)

Suatu kali orang kesayanganku mengajakku untuk berdiskusi. Aku suka sekali berdiskusi dengannya. Bukan karena dia adalah kesayangan, melainkan dia adalah orang yang berpikiran terbuka. Jadi, apa pun yang kubagi, dia bisa menyikapi dengan jernih dan objektif. 

Yang kami bagi adalah bentuk-bentuk pengalaman dan pengertian yang kami temukan dalam keheningan atau meditasi. Aku sering membagikan pengalamanku tentang perjalanan menyelesaikan luka batin, melampaui sisi gelap, bahkan pengalaman bertemu dengan makhluk-makhluk dari dimensi lain, baik dimensi bawah maupun dimensi atas.

Hari itu dia berbagi pengalaman tentang tuntunan dari Guru Sejati (GS) miliknya yang ditemukannya dalam keheningan. Tuntunan GS-nya berupa tuntunan untuk bertindak pada keputusan yang besar dalam hidupnya. Keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan yang sudah dibangunnya sejak lama. 

Bagiku ini keren. GS-nya bisa menunjukkan gambaran tentang masa depannya.

"Waktu hening tadi, aku dapat tuntunan dari Guru Sejati untuk meninggalkan orang-orang terdekat yang tidak sevibrasi dan sefrekuensi denganku sekarang."

Aku kaget. Aku 'kan termasuk orang yang dekat dengannya. Apakah itu termasuk aku yang ditinggalkannya?

Aku tenangkan diriku, "Apa? Bisa diulang, nggak?"

"Iya, tuntunan untuk meninggalkan orang-orang terdekat yang nggak selaras," ulangnya dengan nada yakin, tanpa keraguan. 

"Oh, yang nggak selaras. Berarti bukan aku, ya," timpalku lega.

Aku rasa aku dan dia memang punya keselarasan vibrasi dan frekuensi. Perlu diketahui, aku yang mengajaknya untuk ada di jalan yang penuh keselarasan ini, jalan spiritual yang dipandu oleh Guru Setyo Hajar Dewantoro. 

"Iya, kita masih tetap berkomunikasi. Aku tetap ada di jalan keheningan ini. Kita akan selalu berhubungan baik," tambahnya semakin melegakan. 

Aku tersenyum lebar, "Syukurlah."

"Nanti ke depan, aku akan melakukan hal ini demi pertumbuhan jiwaku. Biar kita sama-sama menjadi Jiwa Ilahi yang paripurna."

"Nanti ke depan, aku akan tetap .... "

"Eh, kok dari tadi ngomongnya ke depan-ke depan terus, sih. Maaf, aku nggak bisa disuruh mikir ke depan, diajak ke kondisi ke depan."

"Maksudnya?"

"Iya, aku nggak bisa. Aku bukan 'Semakin di Depan', aku ini 'One Heart', aku 'Satu Hati'."

"Ye, malah ngiklan!"

Kami pun tertawa bersama merayakan anugerah kehidupan. 

Ya, bagiku kehidupan adalah tentang perayaan sekarang dan di sini, bukan tentang ke depan atau ke belakang. Yang terpenting adalah memelihara keterhubungan dengan Guru Sejati, menjadi satu hati dengannya. Apa pun tuntunan dan kehendakNya pasti aku jalankan. Semua selaras, bergerak seirama sebagaimana irama Semesta yang Agung. 

Pengalaman Cerita oleh Anggota Keluarga Mahadaya Institute

Ditulis oleh S. Haryani C.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humor Selengkapnya
Lihat Humor Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun