Saya pertama kali kenal rokok umur sembilan tahun. Dulu waktu SD saya memiliki teman yang istilah sekarang disebut 'bad boy' karena kecil-kecil sudah merokok. Dan sepertinya dia bukan teman yang baik, karena dia juga mengajari saya merokok. Pertama mencoba merokok, waktu itu saya terbatuk luar biasa, sampai sesak nafas dan hampir mati rasanya. Sejak itu tak mau lagi coba-coba merokok, tidak mau rugi karena takut mati muda dan masih dalam keadaan perjaka pula.
Waktu kuliah, pernah mencoba merokok lagi. Kalau ini sih karena saya yang bodoh. Hanya gara-gara semua teman satu kelompok 'boyband' merokok semua, saya menjadi merasa beda sendiri. Kalau lagi berkumpul, merasa aneh karena tidak seperti orang-orang di kanan kiri. Maklum, zaman masih belum punya kepribadian. Akhirnya daripada terlihat seperti anak pungut, akhirnya saya ikut-ikutan merokok.
Anehnya, saya justru tidak merasa mendapat apa-apa dari merokok. Tiada kenikmatan atau rasa puas yang saya dapat seperti saat makan nasi Padang. Bahwa ketika dikatakan rokok bisa menghilangkan stres, menenangkan pikiran, mendatangkan inspirasi dan berjuta janji-janji surga neraka zahanam lainnya, ternyata itu semua hanya sebatas mitos belaka buat saya.
Malah saya merasa saat seram sendiri membayangkan asap dengan seribu satu zat berbahaya secara sadar dimasukkan ke dalam tubuh untuk merusak paru-paru. Padahal seperti yang kita ketahui, paru-paru adalah organ tubuh yang kalau bermasalah tidak bisa diganti dengan paru-paru sapi. Kalau sudah bermasalah dan tak berfungsi, tinggal mengucapkan "Bye, Felicia" ke kehidupan di alam fana.
Saya sendiri tidak bermasalah dengan para perokok, tetapi saya termasuk yang cerewet luar biasa kepada para perokok. Bukan karena mereka merokok, tetapi lebih kepada attitude para perokok. Malah 99% teman saya yang laki-laki adalah perokok kereta api, maksudnya ngebul setiap saat. Jadi bisa dibilang saya sudah terbiasa.Â
Masalahnya adalah saya jarang menemukan perokok yang sempurna. Sempurna maksudnya memiliki perasaan sensitif menjaga kenyamanan orang lain & kebersihan lingkungan. Para perokok rata-rata tidak peduli pada orang lain. Saya bilang rata-rata ya, bukan semua. Sering saya melihat mereka bodo amat jika orang yang disebelahnya tidak nyaman dengan asap rokok. Dan yang paling membuat saya naik pitam adalah jika puntung rokok dibuang sembarangan.
Yang paling jahat adalah perokok yang merokok sambil mengendarai motor. Batang rokok yang sedang menyala dijepit disela-sela jari yang sedang mencengkeram setang motor. Dalam keadaan melaju, tentu angin berpotensi menghembuskan bara atau abu rokok ke arah orang lain yang berada di belakang si perokok. Hal seperti ini bukan lagi berbicara mengenai kenyamanan orang lain, tetapi sudah naik tingkat menjadi membahayakan keselamatan orang lain. Bayangkan jika abu atau bara rokok yang terbang mengenai wajah atau mata orang lain.
Selain membuat kecanduan, salah satu efek zat berbahaya dalam rokok bisa jadi ada yang belum terdeteksi oleh para ahli, yaitu membuat si perokok menjadi kehilangan pikiran sehat. Bagaimana mungkin orang-orang yang sudah pernah mengenyam pendidikan, mengetahui bahwa zat yang terkandung dalam rokok adalah racun bagi tubuh, tetapi tetap memilih untuk menyuplainya ke tubuh. Tetapi karena zat tersebut sudah mematikan pikiran sehat, kekonyolan ini menjadi terabaikan.
Zaman masih kuliah saya ingat ada pembenaran tentang rokok yang berbunyi 'rokok adalah lambang kejantanan bagi pria'. Tetapi sejak maraknya para pria bertingkah laku dan berpenampilan perempuan (baik di kehidupan nyata atau di televisi) yang juga merokok, akhirnya pembenaran ini tidak lagi relevan. Rokok itu racun, titik! Tidak ada urusannya dengan kejantanan atau kebetinaan.
Di tempat kerja saya, saya termasuk yang galak dalam urusan rokok. Jangankan ke sesama karyawan, bahkan saya juga berani menegur tamu yang merokok tidak pada tempatnya., karena memang tersedia area yang untuk merokok dan area yang bebas asap rokok.
Pernah kejadian ada orang penting yang saya tegur gara-gara perihal rokok ini karena beliau merokok di area yang dilarang merokok. Sudah jelas-jelas ada tulisan besar perihal 'no smoking', tetapi beliau tetap cuek saja merokok dengan lagak bossy. Saya menegurnya baik-baik, tetapi beliau tersinggung. Mungkin dalam hidupnya terbiasa dimanja dan dituruti oleh orang-orang di sekelilingnya. Tidak pernah diingatkan atau ditegur walaupun salah atau keliru.
"Berani-beraninya kamu mengatur saya. Minta nomor telepon manager-mu. Saya mau ngomong," bentaknya saat itu. Lalu saya membacakan serentetan digit angka, dan langsung dia dial lewat ponselnya saat itu juga.
Kriiiiiingggg..., ponsel di saku kemeja saya berbunyi. Saya angkat dan jawab, "Halloooo...". Sambil tersipu, dia pun mematikan rokoknya.
Kalau anda perokok, jadilah perokok yang mempunyai etika. Yang Anda konsumsi itu adalah racun, dan memang adalah hak anda untuk meracuni tubuh anda. Tetapi tolong jangan meracuni orang lain juga yang tidak merokok. Banyak orang yang terkena kanker paru-paru justru sebagai perokok pasif, yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok milik orang lain. Jika ingin merokok, sensitiflah dengan tempat dan orang-orang di sekitar anda.
Jika berada di ruangan tertutup, pergilah ke luar ruangan jika ingin merokok agar asap rokok anda bisa langsung membubung terbang ke neraka. Jangan juga merokok di dekat anak-anak. Ada baiknya sebelum merokok, tanya orang di dekat anda apakah berkenan jika anda merokok. Jangan egois dengan tidak peduli dengan kenyamanan orang lain. Ingat, yang anda hisap itu racun, itu pilihan anda, tetapi orang lain juga berhak punya pilihan untuk tidak berbagi racun dengan anda.Â
Dan yang terakhir, buang puntung rokok anda pada tempatnya. Jangan membuang puntung sembarangan seolah anda sedang memberi makan ayam-ayam. Sudah cukup anda mencemari diri anda sendiri, jangan pula lingkungan ikut anda cemari juga.
Akhir kata, bantulah kami untuk menyayangi anda dengan menjadi perokok yang beretika.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI