"Untuk kedai kopi Starbucks, misalnya, di sana barista hanya tok menyeduh kopi yang sudah ditentukan," kata Agung coba menjelaskan.
Memang, ini akan berbeda dengan kedai kopi yang relatif lebih kecil, di mana barista merangkap juga sebagai pemilik kedai itu sendiri. "Ia bisa beli kopi dari green bean, kemudian membuat percobaan, misalnya sekitar 100 kali, hingga ia bisa membuat signature kopinya sendiri," lanjutnya.
Hari makin sore dan rasa kopi itu masih belum hilang dari tenggorakan. Ke-Pahit-an memang bisa jauh lebih lama membekas daripada yang manis-manis saja. Tidak lama, datang lagi Babang Gojek yang lain membawa pesanan Nasi Ayam Uleg Mozarella. Agung melayaninya sebentar.
Dari dapur mulai tercium aroma masakan istrinya. Perut saya tentu lapar. Kopi bisa membuat kenyang rasa-rasanya hanya mitos belaka. Setelah selesai memberi pesanan Babang Gojek, saya pun tertarik ikut pesan: 1 Nasi Ayam Uleg Mozarella dan 1 Cold brew. Lumayan, itung-itung membersihkan rasa pahit kopi di tenggorokan dan kenyang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H