Mohon tunggu...
Hariadhi
Hariadhi Mohon Tunggu... Desainer - Desainer

Ghostwriter, sudah membuat 5 buku berbagai Dirut BUMN dan Agency Multinasional, dua di antaranya best seller. Gaya penulisan berdialog, tak sekedar bernarasi. Traveler yang sudah mengunjungi 23 dari 34 provinsi se Indonesia. Business inquiry? WA 081808514599

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Layarku Terkembang dari Baubau ke Makassar

24 Oktober 2019   04:06 Diperbarui: 24 Oktober 2019   17:28 443
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mungkin akan bagus kalau disediakan urinoir, sehingga orang seperti saya yang agak jijikan tidak dipaksa menyaksikan pemandangan horor dari toilet mampet.

Pagi menjelang, saya mendengarkan kabar musibah dari Maya, menanyakan apakah Tommy Bernadus, Kompasianer partner saya dalam bertualang, baru saja meninggal. Karena kebetulan sedang di posisi laut yang sinyalnya sedang lemah, saya tidak bisa mengecek secara keseluruhan kabar tersebut.

Baru setelah makan siang saya bisa mengakses informasi dengan agak lancar karena kapal sudah mendekat ke Jeneponto. Saya tulis kalimat belasungkawa di media sosial.

dokpri
dokpri
Dalam keadaan sedih, di kafe di dek 8, dari kejauhan saya lihat baling-baling pembangkit listrik tenaga angin dari kejauhan. Saya ingat Tommy sudah dari dulu mimpi berpetualang dengan naik motor dan kendaraan umum. Harusnya dia menyaksikan pemandangan keren ini.

Penjaga kafenya, seolah tahu hati saya sedang gundah, lalu memutarkan lagu jenaka yang hampir selalu saya dengar selama perjalanan keliling Sulawesi. 

Su lama dekat hampir maso minta, 
Hati so ancor mo kas salah siapa 
Ado Mama ini paling sial ow, 
Su jaga bae-bae orang pu jodoh

Sungguh sebuah lagu yang ironis namun jenaka, menghilangkan sedikit kegundahan saya. 


"Kepada seluruh penumpang dipersilakan mengambil makanan, gratis di dek 4. Silakan mengantri dengan tertib," pemberitahuan dari announcer mengagetkan saya.

Saya baru tahu bahwa dari harga tiket yang saya dapatkan, masih mendapat makan siang gratis. Walaupun antreannya mengular panjang, tapi saya agak terhibur dengan hiburan dangdut gratis yang disajikan oleh awak kapal.

dokpri
dokpri
Makananan kapal sebenarnya cukup enak. Bahkan terasa lebih manusiawi dari makanan pesawat yang biasanya hambar. Lauknya ikan bumbu kuning, ditambah sop kacang merah dengan potongan daun kol, dan nasi yang lumayan banyak. Okelah untuk sebuah tambahan layanan dari tiket yang sudah murah meriah.

Usai makan, penumpang tiba-tiba disuruh balik ke tempat tidur masing-masing. "Kami akan mengadakan sweeping," demikian pengumuman dari pengeras suara. Saya tanyakan dengan penasaran apa yang terjadi, dan penumpang yang masih makan di sekitaran tangga memberitahu bahwa ada pencurian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun