Mohon tunggu...
Hardian Cahya Wicaksono
Hardian Cahya Wicaksono Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Procurement | Telco Industry | Marketing Enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Anarkisme dalam Menciptakan Ruang Publik

30 September 2015   23:56 Diperbarui: 30 September 2015   23:56 46
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

           Pemahaman yang baru tentang kota dan ruang publik saya dapatkan ketika saya bertemu dengan Kang Emil, jauh sebelum beliau menjadi walikota Bandung. Beliau mengatakan bahwa kota yang baik itu indikatornya sangat mudah. Ketika warga kota mau keluar rumah dengan suka cita, dan mendapatkan ruang untuk berinteraksi dengan warga lainnya. Ketika interaksi di ruang publik itu terjadi, maka indeks kebahagiaan akan meningkat dan mengurangi stress yang sering dialami warga kota. Dalam jangka panjang, kriminalitas dan kekerasan akan menurun seiring dengan meningkatnya indeks kebahagiaan warga kota.

 

            Warga Bandung mungkin beruntung mempunyai pemimpin yang sangat paham akan kebutuhan ruang publik. Dan beruntungnya Bandung adalah, taman-taman masih sangat banyak dan luas, walau menghidupkan dan merawatnya menjadi tantangan tersendiri. Tapi bagaimana dengan kota yang pemerintahannya kurang perhatian atau setidaknya kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ruang publik? Bagaimana dengan kota-kota yang mempunyai lahan terbuka yang terbatas karena pertumbuhan bangunan? Di sinilah dibutuhkan sebuah anarkisme dalam menikmati ruang publik. Anarkisme? Ya, anarkisme. Kekerasan? Tentu tidak.

 

              Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan mengklarifikasi tentang anarkisme ini. Anarkis adalah inisiatif yang muncul dari individu atau kelompok yang menggerakkan masyarakat karena kekosongan peran pemerintah. Jadi sifat anarki tidak harus diasosiasikan dengan kekerasan. Inisiatif-inisiatif ini yang harus ditimbulkan dari masyarakat jika pemerintah masih kesulitan dalam dalam memenuhi kebutuhan ruang publik. Saya ingin menggeser paradigma bahwa penyediaan ruang publik bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga menjadi bagian dari tanggung jawab, korporasi, komunitas, bahkan individu. Seperti yang sering dikatakan oleh Kang Emil, your city, your responsibility.

 

Ruang dan Aktifitas.

                Apa hal yang paling dibutuhkan dalam membuat ruang publik? Ruang. Ya, ruang atau lahan adalah elemen terpenting dalam membuat ruang publik itu sendiri. Jika masih banyak taman, kota itu sangat beruntung. Namun bagaimana jika ruang yang dimiliki pemerintah itu terbatas? Dibutuhkan sikap-sikap anarki dalam pembuatan ruang itu sendiri. Jika kita melihat lebih teliti di kota kita masing-masing, masih banyak terdapat lahan kosong yang bisa dijadikan ruang untuk publik. Masalahnya, tidak semua ruang itu milik pemerintah. Ada yang dimiliki oleh perusahaan, BUMN, instansi pemerintah dan militer, atau dimiliki oleh individu-individu. Lahan-lahan tersebut harus “dipinjam” sesaat untuk bisa dinikmati oleh publik. Contoh yang paling mudah adalah Car Free Day (CFD). CFD yang awalnya diinisiasi oleh beberapa organisasi, kini mulai dilegalkan oleh pemerintah. Bahkan di beberapa kota, CFD diinisiasi oleh pemerintahnya. Kita patut bersyukur untuk itu.

                Setelah ruang itu didapatkan, ruang tersebut harus diisi oleh aktifitas agar publik tertarik untuk datang ke tempat itu. Berkumpulnya publik ke ruang inilah yang menciptakan interaksi. Inilah tujuan dari sebuah ruang publik yaitu terjadinya interaksi yang menyenangkan. Solusi termudah dalam menciptakan sebuah aktifitas di ruang publik adalah mengajak komunitas yang ada di sekitar ruang itu. Pada dasarnya, komunitas membutuhkan tempat yang nyaman dan gratis untuk bertemu dan menggelar aktifitasnya, dan di sisi lain, ruang publik membutuhkan pengelola yang mempunyai aktifitas rutin dalam menghidupkannya.

 

Komunitas dan Kreatifitas

                Untuk mendapatkan itu semua, dibutuhkan sekumpulan orang yang mempunyai kesadaran akan pentingnya ruang publik dan mempunyai semangat anarkis positif dalam menciptakan ruang publik. Komunitas, adalah contoh gerakan yang paling memungkinkan untuk itu. Ada beberapa alasan mengapa komunitas adalah gerakan yang paling mudah. Pertama adalah komunitas sendiri membutuhkan ruang untuk berkumpul dan melakukan aktifitasnya. Artinya, jika komunitas mampu menciptakan ruang publik yang menyenangkan, berarti komunitas tersebut mendapatkan manfaat bagi dirinya sendiri, sekaligus untuk masyarakat sekitar. Kedua adalah, sebagian komunitas sudah mempunyai organisasi dan platform yang matang tapi tidak kaku. Menciptakan ruang publik tidak bisa diciptkan dari sendiri. Meminjam istilahnya Kang Emil, ide itu kakinya pendek. Harus didukung rame-rame.

                Jika komunitas bisa diibaratkan mesinnya, kreatifitas adalah bahan bakarnya. Sebenarnya ruang kosong itu masih banyak, namun dibutuhkan kreatifitas untuk melihatnya secara berbeda. Budaya kreatif ini biasanya tumbuh subur dikalangan anak muda, karena itu kebanyakan pencipta ruang publik ini didominas oleh anak muda. Perubahan bisa dimulai dari ide kreatif, bertemu dengan komunitas yang mempunyai energi positif.

                Sebagai contoh yang sangat manis anarkisme dalam menciptakan ruang publik adalah komunitas Keuken dari Bandung. Mereka bisa dikatakan menggunakan cara yang tidak biasa untuk menciptakan ruang publik yang menyenangkan. Mereka menyewa, atau setidaknya meminjam ruang-ruang yang sebenarnya bukan ruang publik untuk dijadikan ruang bagi event mereka. Event mereka sebenarnya adalah culinary festival, namun menggunakan tempat-tempat yang tidak biasa. Lapangan baseball. Gudang kereta api, sampai bandara pernah mereka sewa untuk dapat digunakan sebagai event mereka. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran dari masyarakat bahwa mereka mempunyai hak untuk mendapatkan ruang publik, dan menggunakan cara anarkis yang kreatif untuk mendapatkan ruang publik yang layak.

 

Tantangan ke Depan

                Menciptakan ruang publik secara anarki positif ini juga mengalami beberapa tantangan. Tantangan yang paling besar adalah semakin sempitnya ruang terbuka. Kebutuhan pemukiman mendorong lahan terbuka yang menganggur dimanfaatkan oleh pengembang-pengembang property. Tantangan kedua adalah birokrasi. “Meminjam” lahan bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kemampuan lobi yang kuat ke pemegang atau pemilik lahan untuk dimanfaatkan sebagai ruang publik. Tantangan yang ketiga adalah perubahan masyarakat yang menjadi “makhluk ekonomi”. Tantangan ini benar-benar dirasakan oleh kota besar seperti Jakarta. Kebutuhan ekonomi dan kesibukan kerja akan memperkecil kepedulian masyarakat tentang ruang publik.

                Tantangan itu semua yang harus dihadapi oleh komunitas yang peduli ruang publik. Namun dengan semangat tinggi dan kreatifitas, semua tantangan itu bisa dihadapi. Dan kita semua harus bersemangat untuk menjadi bagian dari solusi penciptaan ruang publik.

 

Salam optimis untuk Indonesia

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun