Mohon tunggu...
Hanny Setiawan
Hanny Setiawan Mohon Tunggu... Administrasi - Relawan Indonesia Baru

Twitter: @hannysetiawan Gerakan #hidupbenar, SMI (Sekolah Musik Indonesia) http://www.hannysetiawan.com Think Right. Speak Right. Act Right.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Megawati Masih Dibutuhkan Indonesia

14 April 2015   00:48 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:08 271
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_360642" align="alignnone" width="630" caption="Ilustrasi Megawati-Soeharto"][/caption]

Presiden wanita pertama, keturunan langsung Soekarno, dan bagian dari kekuatan besar yang menumbangkan Soeharto membuat Megawati memiliki posisi hari ini.  Orasi kebangsaanya yang sangat "jujur" dan "lugas" tidak begitu mengenakkan di dengar loyalis-loyalis Jokowi.  Haters pun langsung bersorak-sorai dan gaduh.  Seperti biasa.

Seperti Jokowi yang tidak bisa dibaca dengan rumus biasa, membaca Megawati dengan cara biasa tidak akan menemukan titik temunya.  Diluar pro atau kontra dengan keputusan-keputusan politik dia, penting untuk mencoba memahami sosok Megawati ini.

Dari semua kegaduhan ini, yang paling penting dicermati adalah kemunculan Tommy Soeharto dan kakak-kakaknya di radar politik Indonesia.  Bahkan Ical dan Akbar Tanjungpun "sowan" ke bekas narapidana ini.   Hebat kan Indonesia?  Petinggi parpol menghadap bekas narapidana.  Ada apakah?

Bahkan anak Soeharto ini melempar ke sosmed mewakili KMP (Koalisi Merah Putih) menawarkan Jokowi bergabung. Luar biasa.  Ternyata KMP pun memiliki hubungan kuat dengan Cendana.  Atau alatnya mungkin?

“KMP akan menjadikan pemimpin kita seorang Petugas Rakyat bukan petugas Partai” Koalisi akan mengawal/mengawasi lewat DPR” #JasKuningRI1 :)”, cuitnya (sumber)

***

Peperangan yang sebenarnya adalah peperangan strategi. Reformasi adalah perlawanan terhadap fasisme, radikalisme, dan oportunisme. Fasisme diwakili oleh Orba yang terus mau comeback dengan cara mengendarai kuda-kuda liar.  Radikalisme menggunakan corong-corong agama untuk membangkitkan sentimen negatif. Oportunisme paling sulit dikenali karena masuk kesemua relung-relung idealisme.

Dalam peperangan besar itu, Megawati membawahi sebuah pasukan besar yang didalamnya banyak kepentingan nasionalisme sekular, agama, dan yang jelas Megawati adalah simbol perlawanan terhadap Soeharto.  Tidak heran dia masih memiliki pengaruh yang demikian besar.

Fakta ini membuat perpolitikan Indonesia masih membutuhkan sosok Megawati untuk menjadi PENYEIMBANG demokrasi.  Sehingga Yin-Yang politik Indonesia tetap terjaga.  Sebab itu, sebenarnya fungsi yang tepat untuk Megawati adalah Ibu Bangsa, bukan ketua partai.

Sebagai Ibu Bangsa justru dia akan dikenal dan dikenang sebagai negarawan dengan tinta emas.  Seperti alm. Lee Kwan Yew seharusnya dia jadi "senior" yang mengarahkan.  Itu yang dibutuhkan Indonesia saat ini.  Karena dengan tetap dijalur eksekutif partai, Megawati harus selalu memimpin peperangan dan do the dirty work.  Sayang sebenarnya.

***

PDI-P tidak akan ditinggalkan pendukungnya.  Karena belum ada kekuatan yang bisa menggantikannya.  Partai-partai yang ada masih sangat oportunis dan belum memiliki suara akar rumput.  Gerindra sebenarnya partai yang luar biasa, sayang memaksakan Prabowo jadi capres 2014.  Seharusnya Prabowo pun legowo jadi king maker, maka kekelaman 98 akan terhapus.  Sayang dia pun masih mau bermain.

Polemik Megawati-Jokowi yang sebenarnya baru diketahui di 2019.  Sekarang ini, selama Jokowi masih "cengengesan" semua hanya panggung politik.  Setelah rokade politik, Jokowi sedang membangun kekuatan dengan kuda dan bishop politik.  Kegaduhan hanya dilevel media, dan oportunis yang tidak kebagian makan.

Yang mengerti Jokowi, hanya Megawati.  Yang bisa menundukan Megawati, juga hanya Jokowi.  Artikel lama saya "Megawati di pangku Jokowi" membuktikan pernyataan saya ini.  Mereka berdua "saling mengerti" dan sanggup bermain bola karena memang saling membutuhkan.

there will always be a story behind a story

Pendekar Solo

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun