Mohon tunggu...
Hani Muthmainnah
Hani Muthmainnah Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Universitas Pendidikan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Mengoptimalkan Pendidikan di Negara Berkembang (Khususnya di Indonesia)

8 Desember 2022   07:58 Diperbarui: 8 Desember 2022   08:07 505
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

MENGOPTIMALKAN PENDIDIKAN DI NEGARA BERKEMBANG

(KHUSUSNYA DI INDONESIA)

Oleh: Hani Muthmainnah

Pendidikan adalah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui bimbingan, atau pelatihan untuk masa depan. Pendidikan adalah usaha yang terencana pemerintah mendidik dan memberi pelajaran anak bangsa. Suatu negara dapat dikatakan maju jika negara tersebut ini mengutamakan pendidikan karena orang tanpa pendidikan tidak memiliki bakat mengelola sumber daya alam, sekalipun putra dan putri Indonesia tidak memiliki keterampilan yang memadai, hal ini dikhawatirkan akan menjadi penghambat pembangunan nasional. Maka, diperkuat dengan fakta bahwa beberapa negara industri berkembang pesat, bukan karena memiliki sumber daya alam yang melimpah tetapi juga kecerdasan masyarakat, disiplin dan etos kerja yang harus juga mendukung sumber daya manusia (SDM).

Pendidikan juga merupakan usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana dan proses belajar. Pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan kemampuan manajemennya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan. Pendidikan secara keseluruhan alat pengembangan sumber daya manusia paling penting yang dapat diimplementasikan demokratis dan adil serta tidak diskriminatif. 

Proses pengembangan yang paling penting diselesaikan oleh para guru sejak itu anggota masyarakat yang berkomitmen dan dicalonkan untuk mendukung pelaksanaan pelatihan dengan tujuan mengembangkan keterampilan dan membentuk watak serta peradaban bangsa layak mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Lalu ada kualitas manusia yang diharapkan bangsa Indonesia di masa depan mampu menghadapi persaingan yang semakin tajam dari negara-negara lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tercipta melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Makanya guru memiliki fungsi, peran dan kedudukan yang sangat penting. Itu sebabnya selalu ada guru mengembangkan keterampilan mereka. Guru juga harus memiliki standar profesional dalam penguasaan materi strategi pembelajaran dan dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Namun, pendidikan tidak pernah lepas dari berbagai masalah. Menurut Fajri masalah yang dihadapi pendidikan terbagi menjadi dua bidang yaitu masalah mikro dan masalah makro. Masalah mikro adalah masalah yang terjadi pada komponen internal pendidikan sebagai sistem itu sendiri, sebagai masalah kurikulum. 

Di samping itu masalah makro adalah masalah yang timbul dalam dunia pendidikan dengan sistem lain yang lebih komprehensif yang mencakup seluruh kehidupan manusia, seperti distribusi pendidikan yang tidak merata di masing-masing daerah. Terutama dengan Indonesia, pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan lebih tepatnya. 

Ini adalah alasan utama untuk meningkatkan rendahnya kulitas pendidikan di Indonesia dan dengan bantuan analisis pendidikan komparatif, agar kita mengetahui seperti apa negara bagian itu yang lain berencana untuk lebih mengembangkan dan memperbaiki sistem pendidikan mereka dapat ditiru, pedagogi komparatif harus mendorong dan mempromosikan. Rekomendasi untuk pengambilan keputusan terkait bangunan dan konstruksi memajukan sistem pendidikan.

Menurut hasil studi tentang sistem sekolah menengah tahun 2018 diterbitkan oleh PISA (Program Penilaian Pelajar Internasional). Pada tahun 2019, Indonesia menempati peringkat terbawah yaitu peringkat ke-74 dari 79 negara orang lain yang terlibat dalam penyelidikan. Dengan kata lain, Indonesia berada di urutan golongan terendah dibandingkan dengan negara lain. Ini adalah mode ekstrim cemas hal ini tentu saja sangat disayangkan oleh departemen sumber daya manusia (SDM). 

Cukup, namun pendidikan harus mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia kenyataannya tidaklah demikian. Karena kualitas pendidikan di Indonesia yang dinilai sangat buruk dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, ada banyak faktor penghambat kemajuan pendidikan di Indonesia diantaranya:

Seperti tadi yang sudah di bahas kualitas pendidikan di Indonesia cukup rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Dengan kata lain, Indonesia berada di urutan ke-6 terendah.

  • Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Masalah pendidikan merupakan hambatan untuk sukses dalam pencapaian tujuan pendidikan. Tentunya hal tersebut membutuhkan perhatian khusus bagi masyarakat Indonesia. Karena kualitas orang yang dihasilkan sangat bergantung pada kualitas pendidikan itu sendiri. Berikut adalah permasalahan pendidikan diantaranya:

1. Masalah Pendidikan di Indonesia dalam Lingkup Makro

  • Kurikulum yang membingungkan dan terlalu kompleksKurikulum yang membingungkan dan terlalu rumit. Kurikulum adalah program yang dirancang atau disampaikan penyelenggara pendidikan bagi siswanya. Di Indonesia sudah terhitung terlihat perubahan kurikulum 10-11 kali sejak Indonesia merdeka. Tentu saja perubahan kurikulum yang sedang berlangsung dapat membingungkan, khususnya guru, siswa dan bahkan orang tua.
  • Pendidikan yang kurang merataIndonesia adalah negara berkembang yang memiliki proses lain pembangunan, termasuk di bidang pendidikan. Sehingga menyebabkan pelaksanaan proses pendidikan terus menghadapi berbagai tantangan masalah di negara berkembang, seperti ketimpangan pendidikan terutama di daerah yang terpencil.
  • Kualitas guru yang rendahSeorang guru adalah pengajar yang memberikan informasi kepada siswa. Peran guru sangat penting untuk keberhasilan pembelajaran. Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah, begitu banyak tugas tertutup bahkan, banyak guru memandang pekerjaan mereka seperti itu hal yang sederhana dan bekerja hanya untuk mendapatkan pendapatan.

2. Masalah Pendidikan di Indonesia dalam Lingkup Mikro

  • Metode pembelajaran yang monotonMetode pembelajaran yang monoton ini bukan berarti perubahan dan inovasi. Dengan kata lain, metode ini diterapkan sedemikian rupa sehingga tidak ada perbedaan transportasi teori. Padahal, metode pembelajaran yang digunakan memiliki dampak yang signifikan hasil belajar siswa. Karena belajar merupakan kegiatan yang memiliki nilai pedagogik, dimana terjadi interaksi antara siswa dan guru.
  • Sarana dan prasarana yang tidak memadaiTentunya sebagai negara berkembang, Indonesia masih membutuhkan banyak hal dibangun dan dilakukan. Termasuk dalam peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. Sampai saat ini masih sering dijumpai di sekolah-sekolah daerah tertentu fasilitas yang tidak memadai. Masalah rendah kualitas lembaga pendidikan dan infrastruktur dapat dikaitkan dengan berbagai faktor, seperti mempersulit pengalokasian dana, menyalahgunakan uang sekolah, kurangnya memelihara fasilitas, dan infrastruktur yang buruk, peralatan dan sekolah yang menyertainya infrastruktur dan faktor lainnya. Akibatnya, banyak siswa yang tidak bisa menikmati fasilitas sekolah yang baik.

Rendahnya prestasi siswaRendahnya prestasi siswa masih menjadi tantangan utama mewujudkan cita-cita pendidikan Indonesia. Banyak faktor menyebabkan rendahnya kualitas prestasi siswa yaitu; Kurangnya motivasi, pergaulan dan faktor lingkungan yang buruk sehingga menjadi acuh terhadap pendidikan.

Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah dengan negara lain. Padahal, pendidikan itu penting bagi kehidupan. Berbagai inovasi pendidikan, baik dengan mencari sumber-sumber kreatif di dalam negeri maupun dengan analisis pendidikan komparatif negara-negara lain yang dianggap berhasil dalam mengembangkan mutu pendidikan. 

Seperti Finlandia telah mengubah sistem dalam beberapa dekade terakhir pendidikan negaranya adalah yang terbaik di dunia. Hal mengacu pada hasil pengujian yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation & Development) pada tahun 2015, yaitu PISA (Program Peringkat Siswa Internasional) Finlandia berada di puncak negara kualitas pendidikan terbaik dalam sains, membaca dan matematika. Dalam tes ini, Indonesia termasuk negara dengan kualitas pendidikan terendah (OECD, 2015).

Melihat kondisi ini menarik untuk di bahas karena Firlandia pendidikannya 30 per tahun maju sangat pesat. Padahal di tahun 1980 situasi pendidikan di Finlandia tidak lebih baik daripada di Indonesia.

Faktor kunci pembangunan ekonomi dan peradaban pendidikan modern Finlandia disebutkan secara khusus visi Kementerian Pendidikan (Finlandia, 2015). persamaan hak pendidikan dan kebudayaan merupakan tujuan strategis yang sangat penting. Pemerintah Finlandia ingin mencapai ini, sesuai dengan strateginya Kementerian Pendidikan pada tahun 2015. Negara menjamin kesejahteraan mental, fisik, dan finansial warga negaranya melalui pendidikan yang seluas-luasnya.

Membangun kepercayaan dan tanggung jawab dalam segala bentuk interaksi disajikan oleh Finlandia (Putra, 2015). Sistem administrasi pelatihan dikembangkan dengan mengedepankan nilai kepercayaan dan kewajiban. Guru dan kepala sekolah bersama dengan orang tua dan masyarakat di sekolah diasumsikan bahwa dia tahu apa yang harus diberikan dan apa yang harus dipersiapkan. Menurut pihak berwenang, ini adalah jumlah maksimum siswa. Pendidikan di Finlandia menumbuhkan budaya kepercayaan dalam manajemen pendidikan. Budaya kepercayaan juga didukung oleh nilai-nilai profesionalisme, kepercayaan, kejujuran dan tanggung jawab. Melihat visi misi Firlandia kita bisa medapatkan solusi untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia dengan melakukan:

  • Pemerataan pendidikan

Sampai saat ini masih sering terjadi kasus di daerah tertentu yang kurang memperhatikan pendidikannya. Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ketimpangan pendidikan. Menurut Kurniawan secara tradisional, solusi berikut dimungkinkan; Konstruksi atau ruang belajar bagi siswa di masing-masing wilayah, gotong royong antar warga menjaga dan memelihara fasilitas yang disediakan oleh sekolah, penempatan guru profesional di daerah terpencil atau kurang terlayani, keberadaan program untuk melibatkan warga atau menyelenggarakan pelatihan tentang pentingnya mereka pendidikan seperti kunjungan rumah ke warga. Masalah biaya juga menjadi kendala dalam pemerataan pendidikan di sana. Oleh karena itu, pemerintah harus menyalurkan dana kepada masyarakat kurang mampu bisa bersekolah selain pemerintah, masyarakat juga bisa saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang memerlukan kerjasama.

  • Meningkatkan kesejahteraan guru

Kesejahteraan guru dengan kemampuan profesional guru dianggap terkait. Menurut Kulla (2017), efek dari kesejahteraan masyarakat tidak mencukupi guru dapat melihat bahwa masih banyak guru yang bekerja paruh waktu, seperti berdagang atau beternak hewan ternak. Ini akan berpengaruh kinerja guru di dalam kelas. Tidak jarang guru terlalu fokus pada pekerjaan paruh waktu mereka yang membuat proses pembelajaran tidak maksimal.

  • Meningkatkan kualitas pendidikan

Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan; Menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan (disesuaikan dengan kondisi peserta didik, masyarakat dan negara), memenuhi persyaratan sarana dan prasarana, menyelenggarakan kegiatan sederhana seperti kelas, program literasi, membina hubungan dengan wali sah siswa, dll.

  • Meningkatkan prestasi belajar siswa

Itu sebabnya perlu untuk bertindak atau tindakan yang dapat menjadi solusi dari masalah tersebut, antara lain; Dengan cara menjadikan proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, siswa harus berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menjadi pusat pembelajaran, bukan hanya pendengar, peran orang tua dalam mendorong anaknya untuk belajar sangatlah penting diperlukan, masyarakat mendukung proses belajar siswa dengan menciptakan sesuatu lingkungan yang baik dan menyenangkan.

Mendeskripsikan sistem pendidikan Indonesia di antara keinginan dan realita di atas dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia. Tampaknya ada kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Secara makro dapat dilihat dari perspektif manajemen, peran pemerintah, kurikulum atau bahan ajar, pendekatan dan metode pembelajaran, sumber daya manusia, lingkungan kampus atau sekolah, pendanaan, dan akreditasi. 

Kesenjangan dalam sistem pendidikan disebabkan karena politik, ekonomi, sosial budaya dll, yang selalu hadir berubah sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman. Maka dari itu, kita sudah bisa menemuka solusinya dengan cara komparatif dengan membandingkan pendidikannya supaya kita sebagai negara berkembang juga mampu mengoptimalkan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Adha, M. A., Gordisona, S., Ulfatin, N., & Supriyanto, A. (2019). Analisis komparasi sistem pendidikan Indonesia dan Finlandia. Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, 3(2), 145-160.

Dwi Atmanti, H. (2005). Investasi sumber daya manusia melalui pendidikan. Jurnal Dinamika Pembangunan (JDP), 2(Nomor 1), 30-39.

Gazali, M. (2013). Optimalisasi Peran Lembaga Pendidikan Untuk Mencerdaskan Bangsa. Al-TA'DIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan, 6(1), 126-136.

Kurniawati, F. N. A. (2022). Meninjau Permasalahan Rendahnya Kualitas Pendidikan Di Indonesia Dan Solusi. Academy of Education Journal, 13(1), 1-13.

Meditamar, M. O. (2016). ADMINISTRASI PENDIDIKAN DAN NEGARA-NEGARA BERKEMBANG. Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 12(1).

Mustari, M., & Rahman, M. T. (2014). Manajemen pendidikan.

Rizkita, K., & Supriyanto, A. (2020). Komparasi kepemimpinan pendidikan di Indonesia dan Malaysia dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan, 8(2), 155-164.

Santoso, P. B., Tukiran, M., Hyun, C. C., Wijayanti, L. M., Asbari, M., & PURWANTO, A. (2020). Review Literatur: Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pendidikkan dalam Rangka Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi. Journal of Industrial Engineering & Management Research, 1(3), 276-285.

Sulastri, S., Fitria, H., & Martha, A. (2020). Kompetensi Profesional Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Journal of Education Research, 1(3), 258-264.

Ustama, D. D. (2009). Peranan pendidikan dalam pengentasan kemiskinan. Dialogue, 6(1), 1-12.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun