Mohon tunggu...
Hani PatuTazkiah
Hani PatuTazkiah Mohon Tunggu... Guru - Guru

English Teacher

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Implementasi Problem Based Learning dengan Platform Quizizz untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Peserta Didik

13 Desember 2022   08:51 Diperbarui: 13 Desember 2022   09:10 300
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pada tahun ini, yaitu tahun 2022, telah diberlakukan Kurikulum baru yang disebut dengan Kurikulum Merdeka. Pada Kurikulum ini, pembelajaran Bahasa Inggris kembali diberlakukan sebagai mata pelajaran di jenjang Sekolah Dasar. Pengajaran bahasa Inggris di Indonesia sudah dimulai sejak lama. Berbagai kurikulum dan metode pengajaran bahkan telah dikembangkan oleh pemerintah, guna meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menguasai bahasa Inggris, salah satunya dengan memperkenalkan bahasa Inggris lebih dini, dimulai dari Sekolah Dasar. Namun, pada tahun sebelumnya sempat dihilangkan karena berbenturan dengan Kurikulum yang berlangsung pada saat itu.

Sangat sedikit perhatian yang telah diberikan secara khusus untuk pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat dasar. Disinilah pentingnya inovasi pembelajaran Bahasa Inggris yang terpadu dan selaras dengan pesatnya kemajuan teknologi dan globalisasi.

Pada anak usia sekolah dasar tentunya diajarkan Bahasa Inggris yang sifatnya dasar, termasuk pengenalan objek yang ada disekitarnya. Namun fakta dilapangan, kebanyakan peserta didik masih mengalami kesulitan dalam mempelajari Bahasa Inggris karena dirasa terlalu sulit dan kurang menyenangkan. Motivasi belajar peserta didik pun masih kurang, bahkan sangat kecil keinginan mereka untuk mengerjakan/menyelesaikan tugas dari guru. Sebetulnya, faktor yang sudah dijelaskan ini umum terjadi di sekolah-sekolah dasar pada umumnya. Hal ini terjadi karena masih banyak ditemukannya masalah serta hambatan yang memengaruhi proses pelaksanaannya, sehingga hasil yang dicapai pun belum maksimal. Salah satu hambatan tersebut terlihat dari proses belajar mengajar di ruang kelas, mulai dari suasana kelas yang tidak kondusif karena banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas, dan tidak menariknya media belajar yang disediakan oleh sekolah.

Banyaknya jumlah peserta didik di dalam satu kelas di sekolah dasar pada umumnya itu memang lebih banyak, dan hal ini membuat suasana kelas yang seharusnya menyenangkan menjadi tidak kondusif. Padahal dalam proses pembelajaran, jumlah siswa di dalam satu kelas idealnya dibatasi agar peserta didik bisa fokus dalam kegiatan belajarnya sendiri. Pada kenyataannya, sekolah-sekolah di Indonesia kebanyakan memiliki kelas dengan jumlah siswa mencapai 30-40 peserta didik dalam satu kelasnya, sehingga membuat suasana kegiatan belajar mengajar menjadi tidak ideal. Terkait banyaknya jumlah peserta didik yang ada di ruang kelas, sebenarnya hal tersebut bisa diatasi oleh para guru dengan membaginya menjadi beberapa kelompok. Selain itu, dengan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok juga akan memudahkan para guru untuk memberikan materi dan memperhatikan anak muridnya. Karena dalam proses belajar untuk peserta didik di sekolah dasar, biasanya memang memerlukan perhatian yang lebih, mengingat usia mereka yang masih muda.

Hal lain yang menjadi perhatian terhadap pembelajaran bahasa Inggris adalah metode dan media yang digunakan masih sangat monoton. Di Indonesia rata-rata guru memakai buku pelajaran sebagai media mereka dalam memberikan materi. Namun, ada beberapa guru yang mengalami masalah karena kurangnya buku yang tersedia. Ditambah dengan para guru yang tidak mempunyai pedoman terkait buku lainnya yang layak, serta memenuhi standar untuk dipergunakan sebagai materi pembelajaran di kelas. Kalaupun di sekolah tersebut tersedia banyak buku pelajaran yang bisa digunakan, kebanyakan dari buku-bukunya pun kurang menarik untuk anak sekolah dasar. Misalnya terlalu banyak tulisan di dalam buku, kurangnya gambar yang menarik, sehingga hal tersebut menghambat atau menurunkan motivasi siswa dalam proses belajarnya. Pada hal ini, guru dituntut untuk terus mengembangkan diri agar lebih inovatif. Apalagi, kita sekarang berada pada era dimana teknologi mengambil peran yang cukup penting untuk segala hal.

Pembelajaran abad 21 adalah pembelajaran yang dirancang untuk generasi abad 21 agar mampu mengikuti arus perkembangan teknologi terbaru. Terutama pada ranah komunikasi yang telah masuk ke sendi kehidupan, maka dari itu siswa diharuskan untuk bisa menguasai empat keterampilan belajar (4C), yakni: creativity and innovation, critical thinking and problem solving, communication dan collaboration. Konsep inilah yang perlu dikembangkan dalam duni pendidikan saat ini, dimana pembelajaran harus berpusat pada peserta didik, harus kolaboratif dan metode pembelajaran tidak terus menggunakan metode ceramah.

Dengan demikian, penelitian ini merupakan upaya untuk memeriksa masalah terkait dengan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar, dengan penekanan khusus pada penggunaan teknologi sebagai bentuk usaha seorang guru dalam melakukan sebuah inovasi demi mencapai tujuan pembelajaran, khususnya dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menguasai vocabulary pada materi cardinal number.

Praktik baik ini perlu dibagikan agar seluruh guru bergerak bersama untuk melakukan model pembelajaran yang inovatif yang sesuai dengan Kurikulum yang saat ini sedang berjalan yaitu Kurikulum merdeka sehingga dapat membentuk perilaku saintifik, perilaku sosial dan menumbuhkan rasa keingintahuan pada masing-masing peserta didik.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai guru untuk mengatasi permasalahan itu terjadi, salah satunya dengan cara mencari model dan media pembelajaran yang variatif dan inovatif. Jika kita melihat dari berbagai sumber. ada banyak sekali model dan metode yang bisa diterapkan dikelas. Namun, menentukan model dan media yang tepat sangatlah tidak mudah. Setiap model dan media memiliki tujuan masing-masing.

Pada hal ini, saya mengambil satu model pembelajaran yang relevan untuk diterapkan di sekolah saya. Model pembelajaran tersebut adalah Problem based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah adalah sebuah model pembelajaran yang mengenalkan peserta didik pada suatu permaslahan yang memiliki keterkaitan dengan materi yang dibahas. Peserta didik kemudian akan diminta untuk mencari solusi untuk menyelesaikan kasus/masalah tersebut. Proses pencarian jawaban dari masalah yang dihadapi merupakan fokus utama dan hasil akhirnya bukanlah menentukan salah atau benar karena bersifat terbuka. Adapun karakteristik dari model ini adalah:

1. Bersifat students-centered atau berpusat pada siswa.

2. Dapat diselesaikan dalam waktu yang pendek (singkat) atau tidak terlalu lama.

3. kegiatan dimulai dengan sajian masalah yang harus dipecahkan atau dipelajari lebih lanjut oleh peserta didik. Masalah yang disajikan seringkali dibingkai dalam skenario atau format studi kasus. Masalah biasanya akan dirancang dengan meniru kompleksitas permasalahan di kehidupan nyata. Tugas belajar yang dilakukan peserta didik pun sangat bervariasi dalam cakupan, waktu dan kecanggihan.

4. Hasil akhirnya adalah solusi dari masalah yang diberikan dan tidak harus dalam bentuk produk khusus. Bisa saja hasil akhirnya berupa tulisan atau presentasi.

Model Problem Based Learning (PBL) dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Untuk langkah-Langkah Penerapan Problem Based Learning yaitu:

1. menyampaikan pada peserta didik tentang tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kemudian, guru menyajikan sebuah masalah yang harus dipecahkan peserta didik. Masalah ini berguna untuk meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan analisis, juga inisiatif. Setiap peserta didik harus memahami berbagai istilah serta konsep yang ada dalam masalah. Guru memiliki peran penting sebagai pemberi motivasi agar setiap siswa terlibat langsung dalam pemecahan masalah.

2. pengorganisasian peserta didik. Setiap peserta didik dalam kelompoknya akan menyampaikan informasi yang sudah dimiliki tentang masalah yang ada. Kemudian, mereka akan berdiskusi untuk membahas informasi faktual, dan juga informasi yang dimiliki setiap siswa. Pada tahap ini kegiatan brainstorming dilakukan. Guru berperan membantu siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang relevan dengan masalah yang disajikan.

Dari langkah pertama, Guru meminta siswa memberikan pendapatnya tentang gambar atau video yang diberikan. Dan dibimbing untuk dapat mengidentifikasi masalah yang ditimbulkan dari gambar tersebut yang harus ditemukan penyelesaiannya.

3. Selanjutnya, Guru melakukan kegiatan pembimbingan untuk mendorong peserta didik dalam pengumpulan informasi yang relevan, melaksanakan eksperimen, hingga mendapat insight untuk pemecahan masalah. Pada tahap ini guru dapat memberikan lembar kerja yang dapat memandu mereka dalam mendalami materi, dan untuk menemukan solusi.

4. Guru selain melakukan proses pembimbingan juga dapat membantu peserta didik ketika proses perencanaan dan penyajian hasil akhir. Beberapa di antaranya seperti video, model, laporan, dan membagi tugas di antara anggota dalam kelompok.

Tahap keempat ini adalah periode dimana siswa mencatat data hasil penyelidikan kelompok dalam Lembar Kerja, mengolah data yang diperoleh dari kelompoknya, dan menjawab pertanyaan pada Lembar Kerja. Selanjutnya peserta didik menyajikan hasil pengolahan data dalam bentuk yang sudah disepakati.

5. melakukan evaluasi dan juga refleksi. Guru dapat mengarahkan peserta didik untuk melakukan refleksi dan evaluasi dalam setiap proses yang dijalankan dalam penyelidikan. Pada akhir pembelajaran, peserta didik dan guru mengevaluasi hasil penyelidikan melalui diskusi kelas. Selanjutnya, peserta didik akan mempresentasikan hasil penyelidikan dan diskusi di depan kelas dan kemudian dilakukan kegiatan penyamaan persepsi. Guru melakukan evaluasi hasil belajar mengenai materi yang telah dipelajari siswa menggunakan paper and pencil test atau authentic assessment.

Model pembelajaran ini juga akan lebih baik lagi jika didukung dengan media yang menarik tentunya. Salah satu media yang dapat menarik perhatian peserta didik adalah media yang berbasis teknologi. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran ini jelas akan membuat proses belajar mengajar menjadi efektif dan efisien karena dapat mempermudah seorang guru dalam mendapatkan atau menyampaikan informasi (pesan atau isi, materi) pelajaran, dapat membantu peningkatan pemahaman siswa, penyajian data/informasi lebih menarik atau terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan mendapatkan informasi. Media teknologi yang saya pakai adalah media powerpoint dan platform Quizizz. Media ini berperan penting sebagai alat bantu yang efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar.

Dampak dari aksi dan langkah-langkah dilakukan dari model pembelajaran PBL dan media platform Quizziz ini menunjukan positif dan efektif. Kegiatan tersebut menunjukan bahwa model dan media pembelajaran yang dipakai dapat mempermudah peserta didik dalam penguasaan vocabulary terkait materi pembelajaran dikarenakan pelaksanaan model pembelajaran PBL dilakukan sesuai dengan sintaknya. Didalam sintak tersebut, peserta didik belajar untuk mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. Pembelajaran jadi lebih menyenangkan dan menambah motivasi belajar peserta didik. Selain itu, peserta didik mampu melaksanakan kegiatan secara kompetitif hingga mampu menampilkan atau melaporkan hasil kegiatannya secara terbuka dan sesuai yang diharapkan. Adanya unsur TPACK menjadi motivasi peserta didik untuk mengeksplorasi materi yang diberikan, karena seperti yang kita ketahui bahwa peserta didik adalah generasi yang dekat dengan teknologi.

Setelah melakukan praktik ini, ada banyak respon positif dari berbagai pihak. Salah satunya dari kepala sekolah di sekolah dasar tersebut. Beliau memberikan respon positif terhadap kegiatan dan metode pembelajaran ini. Beliau mendukung dan berharap bisa diaplikasikan ke semua mata pelajaran di sekolah. Hal-hal yang menjadi faktor keberhasilan adalah adanya dukungan yang luar biasa dari kepala sekolah, rekan-rekan sejawat serta peserta didik. Kepala sekolah juga memberikan ijin untuk menggunakan sarana prasarana untuk keberlangsungan praktik ini. Rekan-rekan sejawat pun rela mengganti jam mengajar mereka di waktu lain dan bersedi membantu dalam kegiatan ini. Selain itu, saran dan masukan yang membangun dari dosen dan guru pamong juga turut berperan penting dalam mencapai tujuan dari kegiatan ini.

Karawang,

Mahasiswa PPG Dalam Jabatan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun