Namun dalam kisah ini, Liu Bei diangkat menjadi yang nomer satu, di atas empat tokoh utama lainnya. Kenapa bisa demikian? Pikir punya pikir, iseng-iseng saya merenungkan dan menggunakan ilmu otak-atik gathuk yang sakti mandraguna itu.
Maka lahirlah sebuah pemikiran sebagai berikut :
Masing-masing tokoh, sebenarnya mewakili salah satu sifat atau nilai moral yang ingin "dijual" oleh si pengarang. Urutan itu sendiri hadir, juga memiliki artinya sendiri. Mengapa Liu Bei menjadi saudara pertama, mengapa Zhang Fei menjadi saudara angkat yang terakhir, dan mengapa dalam cerita yang didramatisir itu, kedudukan Zhuge Liang lebih tinggi dari Zhao Yun. Semuanya punya makna yang tersembunyi, lepas dari kebenaran sejarahnya.
Apakah Liu Bei memang se-naif dan sepolos itu? Rasanya tidak mungkin seseorang bisa menanjak dalam karier politik dan militer tanpa ketajaman dan kecerdikan.
Apakah memang benar Zhuge Liang yang paling cerdas di antara mereka? Belum tentu.
Apakah Zhang Fei memang semberono dan grusa-grusu? Belum tentu, bagaimana mungkin seorang jenderal bisa sering menang perang kalau dia semberono dan grusa-grusu?
Akan tetapi masing-masing tokoh utama, diceritakan sedemikian rupa, sehingga ada satu nilai keutamaan atau idealisme yang ingin diinkarnasikan ke dalam karakter mereka oleh si pengarang.
Maka pertanyaan selanjutnya, sifat utama apa yang coba disematkan pada masing-masing tokoh?
1. Liu Bei, menonjol dalam hal rasa kemanusiaannya.Â
Sebagai seorang rakyat biasa, dikisahkan Liu Bei tergerak untuk berjuang karena terdorong oleh keinginan untuk menegakkan kebenaran. Sebagai seorang pejabat, Liu Bei dikisahkan menjadi pejabat yang jujur dan dicintai oleh rakyat yang dia pimpin. Sebagai seorang "raja" dia memilih menyelamatkan rakyatnya meski harus memikul resiko atas pilihannya itu.
Dalam berbagai kesempatan dalam kisah tersebut, Liu Bei diceritakan sebagai seseorang yang termotivasi dan digerakkan oleh rasa belas kasihan, oleh rasa peri kemanusiaan.