Mohon tunggu...
Hana Marita Sofianti
Hana Marita Sofianti Mohon Tunggu... Guru - Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini, Guru , Blogger, Ghost Writer, Founder MSFQ

Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini , Guru, Blogger, Ghost Writer, Founder MSFQ

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sambut Imlek 2020 dengan Toleransi

23 Januari 2020   20:10 Diperbarui: 24 Januari 2020   22:47 185
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Intinya kami tidak pernah mempermasalahkan semua perbedaan kami baik yang intern ataupun ekstern. Terkadang dia juga selalu mengikuti ucapan-ucapan saya yang terbiasa menyebut "Masya Allah" dan lain sebagainya.

Yang jadi masalah justru saya pernah berdebat dengan teman sesama muslim saya, katanya kafir dan haram mengucapkan "Selamat Tahun Baru Imlek" , dll. Sampai-sampai dia merasa benar sendiri dengan argumen-argumennya.

Menurut saya pribadi sih hak asasi seseorang jika dia mau menyebutkan ataupun mengucapkan kata-kata tersebut ataupun tidak. Kenapa? Karena kita hidup dan bersosialisasi di tanah Indonesia Raya yang kaya akan budaya dan kaya akan tradisi serta beragam agamanya.

Ingat mereka juga mengerti dan tidak akan bawa-bawa kita untuk ikut ajaran agama mereka. Kata-kata itu hanya sebuah perwujudan toleransi umat beragama saja dan "Bhineka Tunggal Ika". Khususnya kita sebagai warga negara yang tidak mau mempermasalahkan hal yang memang tidak ada masalahnya karena sudah tertuang dalam Undang - Undang.

Seorang presiden atau pejabat pun akan mengucapkan "Happy Chinese New Year" saya rasa, bahkan mereka akan masuk ke Gereja ataupun Wihara untuk saling menghargai tentang agama.

Terus apakah saya pejabat sehingga saya boleh juga mengucapkan hal itu? Semua manusia sama, mau pejabat ataupun bukan. Ya, saya adalah pejabat dalam diri dan raga saya sendiri, jadi bagi saya adalah hak saya dengan ucapan seperti itu, tentunya di tambahkan dengan kata-kata " bagi yang merayakannya ", bukankah itu adil? 

Bagaimanapun ucapan itu tidak akan mengubah keimanan seseorang kan? Karena itu hanya sebuah ungkapan rasa toleransi saja. Terbukti dengan bertemannya saya dengan sosok teman Chinese saya yang tidak pernah membedakan suatu hal yang memang tidak boleh di perdebatkan dalam masalah agama.

Tanpa berdalil agama pun, mereka tidak akan memaksa kita untuk masuk agama mereka, dan saya pun tidak akan pernah berpindah keyakinan dan agama saya kepada agama mereka, jelas?

Apakah semudah itu menjudge seseorang hanya karena mengucapkan kata-kata Selamat tersebut jadi Kafir atau murtad? Saya sungguh heran sepertinya harus ngaji lagi lebih dalam nih. Kafir atau murtad itu apa sih? Silakan cek di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) apa itu pengertiannya.

Nah yang ingin saya sampaikan hanya memang kita orang muslim itu mempunyai takaran dan tingkatan-tingkatan keimanan yang tertuang dalam kitab Cabang-cabang iman atau kitab Qami At Thughyan karya ulama besar Syaikh Nawawi Al Bantani. 

Foto by hana
Foto by hana
"Hai kamu telah kafir!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun