Namun, hingga saat ini belum ada tanggapan atau penawaran harga untuk ginjalnya. Meskipun demikian, Erfin tetap berusaha agar lelang ginjal dapat segera terlaksana.
Ahmad Abu Sofyan, seorang pengamat politik di Bondowoso, menyatakan bahwa langkah Erfin hanyalah strategi politik untuk mendapatkan simpati dari masyarakat dan mendapatkan suara saat pemilihan.
"Dalam dunia politik, ada berbagai strategi untuk mencapai tujuan tertentu. Bisa jadi lelang ginjal ini juga merupakan bagian dari strategi politik," ungkap Sofyan, yang merupakan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Bondowoso.
Sofyan menambahkan bahwa strategi semacam ini bertujuan untuk memperoleh simpati dan iba dari masyarakat, sehingga caleg tersebut dapat dipilih saat pemilihan.
"Siapa yang tidak kasihan melihat seorang caleg harus melakukan pengorbanan seperti itu karena kurangnya dukungan finansial," kata Sofyan, yang merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
Muhammad Muhib Alwi, seorang pakar psikologi dari Fakultas Dakwah di UIN Jember, juga tertarik dengan hal ini. Menurutnya, lelang organ ini mungkin hanya sebagai strategi politik. Berdasarkan teori psikologi sosial, "melakukan sesuatu yang unik akan membuat orang mengenal kita". Mungkin lelang organ merupakan bagian dari strategi politik untuk membuat caleg ini dikenal oleh masyarakat.
Muhammad Muhib menambahkan bahwa di era media saat ini, di mana informasi mudah diakses oleh masyarakat, melakukan tindakan yang aneh atau unik dapat menarik perhatian publik. Sesuai dengan Mahfudzot yang berbunyi "kencingi air zam zam, maka anda akan mendapat sorotan dunia. Dengan cara ini, caleg tersebut dapat memperoleh simpati dari masyarakat.
Penulis: Abdul Hamid
Sumber. Detik.com, fdakwah.uinkhas.ac.id
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H