"Ah, elo ketinggalan roket. Masa gitu aja gak tau," Budi menyesap es tehnya kembali, lalu mengutak atik hapenya kembali, "Nih, program #smartfrenWOW," kata Budi sambil mengangsurkan hapenya ke Handoko memperlihatkan aplikasi MySmartfren nya.
Smartfren untuk para pelanggan setia pengguna kartu Smartfren. Sudah terbukti kalau pelanggan militan dari Smartfren mendapat rumah impian mereka. Nih, buktinya," Budi memperlihatkan pada Handoko, menunjukkan kalau Smartfren memberikan hadiah rumah kepada pelanggan Smartfren yang beruntung.
"Program ini adalah program yang diprakarsai oleh"Wah, detail sekali ya. Kenapa kamu tidak kasitau aku sebelumnya?" Handoko menyesalkan.
"Mana kutahu kalau kamu mau beli rumah. Kukira kamu sudah nyaman dengan rumahmu yang sekarang," Budi melicintandaskan tetes terakhir teh es manisnya.
"Ya, keliatannya enak, tapi kan bukan berarti aku senang hidup di rumah kontrakan. Kan tidak bebas untuk memperbaiki atau melakukan berbagai hal semisal syukuran atau kegiatan lain. Belum lagi tiap tahun harus bayar sewa rumah. Gak jadi milik kita juga itu rumah," Handoko mengeluh.
"Ya udah," Budi menengahi, "Kamu kan udah make kartu smartfren. Terus aja gunakan supaya #SmartPoin-mu bisa terkumpul banyak. Kan jadi enak. Sambil menyelam, minum air. Poin bertambah, dan semakin besar peluang meraih rumah impian."
"Oke deh, Bud. Thanks berat. Untung ada kamu. Kalau gak, aku gak tau."
"Ah, santai aja, bro. Itulah gunanya teman. Saling membantu. Tapi jangan lupa sama aku ya kalau udah dapat rumah. Biasanya kalau sudah dapat rezeki, teman dilupakan," Budi cengar-cengir penuh makna.
"Tenang. Nanti kutraktir. Seperti yang biasa kau bilang kan. Ada Budi, Ada Balas. Pastilah aku ingat kamu kalau dapat rumah impian."
"Sipp. Gitu dong. Ayo, Han. Balik kerja lagi kita. Nanti Bos marah."
"Oke. Ayo kita cabut," Handoko pun mengangsurkan 50 ribuan ke Ibu kantin.