Mohon tunggu...
Halima Maysaroh
Halima Maysaroh Mohon Tunggu... Guru - PNS at SMP PGRI Mako

Halima Maysaroh, S. Pd., Gr. Pseudonym: Ha Mays. The writer of Ekamatra Sajak, Asmaraloka Biru, Sang Kala, Priangga, Prima, Suaka Margacinta, Bhinneka Asa, Suryakanta Pulau Buru, Ajian Tapak Guru, Wulan Umbara

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Aksi Nyata Sesi Berbagi Materi Budaya Positif di Sekolah

28 Oktober 2023   08:14 Diperbarui: 28 Oktober 2023   17:10 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sesi berbagi budaya positif (dokumentasi pribadi) 

Kamis, 26 Oktober 2023, dilaksanakan aksi nyata oleh Calon Guru Penggerak Angkatan 9 Kabupaten Buru dari SMP PGRI Mako. Tindakan aksi nyata adalah proses implementasi sebuah teori dari modul yang telah dipelajari, didiskusikan dan dianalisis. Maka, dari modul dengan judul Budaya Positif, Calon Guru Penggerak melaksanakan sesi berbagi bersama kepala sekolah dan rekan guru tentang beberapa teori budaya positif yang sudah dan dapat dilakukan di sekolah.

 Budaya positif yang disampaikan di dalam forum adalah proses penyusunan keyakinan kelas, posisi kontrol guru dan penerapan langkah-langkah segitiga restitusi. Tiga poin bagian-bagian budaya positif itu disampaikan dengan tujuan dan harapan besar untuk dapat diterapkan di sekolah secara berkelanjutan.

Kenyakinan kelas

Dari penyampaian sesi berbagi tersebut diambil ranah paling kecil di sekolah yaitu kelas. Mengapa keyakinan kelas, bukan aturan kelas? Sebab aturan adalah pernyataan-pernyataan yang harus ditaati  kelas dibuat oleh guru dan harus dijalankan oleh objeknya, objek tersebut adalah murid.

Tujuan Penerapan Keyakinan Kelas:

  • Mewujudkan Merdeka belajar pada murid
  • Mewujudkan disiplin positif kepada murid
  • Membentuk karakter yang positif pada murid melewati kebiasaan-kebiasaan positif, perilaku positif, serta keteladanan dari seluruh warga sekolah (Guru dan murid)
  • Menumbuhkan semangat belajar kepada murid

Sedangkan keyakinan kelas adalah pernyataan-pernyataan yang harus dilaksanakan di kelas yang dibuat oleh guru dan murid, disepakati bersama dan dilaksanakan bersama. Uraian tentang langkah-langkah menyusun keyakinan kelas dapat dilihat melalui link berikut klik tautan di sini

Posisi kontrol guru

Posisi kontrol guru variatif. Tidak semua guru berada di posisi kontrol yang sama. Dengan karakteristik yang berbeda-beda sudah tentu guru menempatkan posisi kontrolnya juga berbeda. Posisi kontrol adalah suatu program disiplin positif yang berpusat pada murid. Dilansir melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori kontrol Dr. William Glasser, disimpulkan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru yaitu Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau, dan Manajer.

Ciri-ciri posisi kontrol sebagai penghukum:

  • Melakukan hukuman fisik dan verbal
  • Berkata kasar dan bernada tinggi
  • Suka menyindir
  • Merasa caranya sudah paling benar

Ciri-ciri posisi kontrol sebagai pembuat rasa bersalah

  • Menguluarkan kata-kata kekecewaan
  • Menunjukan bahwa seolah guru adalah korban dari prilaku murid
  • Kata-katanya tenang namun menyalahkan murid

Ciri-ciri posisi kontrol sebagai teman:

  • Suara guru ramah
  • Bersenda gurau
  • Memuat murid ketergantungan pada orang lain
  • Menciptakan murid tidak mampu mandiri

Ciri-ciri posisi kontrol sebagai pemantau:

  • Suara guru datar saja
  • Guru mengarahkan murid berdasarkan konsekuensi

Ciri-ciri posisi kontrol sebagai manager:

  • Guru melontarkan pertanyaan-pertanyaan bermakna
  • Menuntun murid untuk belajar dari kesalahan
  • Mencarikan solusi sebagai penyelesaian
  • Menawarkan  kesepakatan untuk ke depan lebih baik

Posisi kontrol paling ideal sebagai upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam membangun budaya positif di sekolah adalah posisi kontrol sebagai manajer. Tentunya, untuk mewujudkan hal ini membutuhkan proses yang yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, proses ini juga membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan di sekolah.

Segitiga restitusi

Segitiga restitusi dilaksanakan untuk meminimalisir adanya posisi kontrol guru sebagai penghukum. Jadi, ketika murid melalukan kekeliruan, tidak langsung dihakimi, tetapi dilakukan langkah-langkah retitusi sebagai penyelesainnya.

Langkah-langkah tersebut tidak harus dilakukan satu persatu secara kaku. Sebenarnya banyak guru yang telah melaksanakannya dalam berbagai versi menurut gayanya masing-masing bahkan tanpa mengetahui tentang teori restitusi.

Langkah-langkah segitiga restitusi:

  • Menstabilkan identitas
  • Memvalidasi tindakan yang salah
  • Menanyakan keyakinan

Pada fase menstabilkan identitas, posisi guru sebagai penengah antara murid dan kesalahannya. Tidak menghakimi, juga tidak membela. Tugas guru menenangkan dan memanusiawikan murid. Contoh kalimat yang dilontarkan guru adalah, "Semua orang pernah berbuat kesalahan, termasuk saya. Jadi wajar jika kamu berbuat kesalahan kali ini."

Tahap selanjutnya adalah memvalidasi kesalahan yang dilakukan. Guru memastikan murid memahami kesalahannya, bukan untuk membuat murid merasa rendah diri atau membuatnya terpuruk. Guru berusaha mengetuk hati murid untuk menyadari bahwa tindakkannya tidak sesuai dengan keyakinan yang telah disepakati. Murid juga diharapkan dapat mengambil pelajaran dari kesalahannya. Maka terbentuklah motivasi internal dalam diri murid.

Tahap terakhir adalah menanyakan keyakinan. Guru bersama murid mencari solusi akan masalah tersebut. Selanjutnya membuat kesepakatan agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Jika perlu, melibatkan orang-orang terdekat murid seperti orang tua, kakak dan anggota keluarga lain.

Demikian materi yang Calon Guru Penggerak sampaikan di dalam forum diseminasi aksi nyata. Banyak harapan yang menjadi PR para guru untuk berinovasi dalam menerapkan budaya positif ini.

Setelah seluruh materi disampaikan dalam diseminasi aksi nyata di sekolah SMP PGRI Mako, Bapak Kepala Sekolah memberikan tanggapan positif. Beliau menyatakan bahwa akan bertahap merealisasikan budaya positif dan mempertahankan budaya positif yang telah terlaksana.

Diseminasi yang berjalan dengan lancar ini bukan sebab saya hebat. Tetapi sebab pimpinan saya dan rekan-rekan guru yang hebat. Rekan-rekan yang tergugah untuk berkolaborasi bersama-sama. 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun