Bagaimana jadinya bila sampean (Anda) merupakan salah satu yang terbaik di bidang yang Anda jalani, tetapi tidak pernah mendapatkan pengakuan sebagai yang terbaik? Tidak pula pernah diganjar penghargaan tertinggi. Akan jadi seperti apakah kita?
Apakah sampean akan terus bergerak maju ? Terus maju karena yakin pada akhirnya, semua usaha yang Anda lakukan sekarang, kelak akan diakui dan dihargai orang banyak.Â
Ataukah, sampean merasa tidak perlu lagi melakukan kerja yang istimewa karena tidak ada orang yang memberikan pengakuan? Lantas, berpikiran cukup kerja biasa-biasa saja. Toh, tidak ada yang memberikan apresiasi.
Dan memang, dalam menjalani "peran" di tempat pekerjaan, tidak sedikit dari kita yang sekadar berorientasi ingin "diakui" oleh orang lain. Bentuknya bisa berupa pujian, penghargaan, piala dan sebagainya.
Tentu saja, orientasi kerja seperti itu tidak keliru. Bisa dibenarkan. Asal proporsinya benar. Yang keliru adalah, ketika pengakuan berupa pujian dan penghargaan terhadap pekerjaan kita tak kunjung datang, lantas kualitas kerja kita jadi menurun karena merasa terlupakan.
Karenanya, penting untuk memiliki standar dalam bekerja. Tetapkanlah standar terbaik yang bisa kita capai dalam bekerja. Dan, pada level standar itulah kita terbiasa bekerja.
Dengan begitu, ada atau tidak ada pengakuan, kita akan terbiasa bekerja pada standar tersebut. Dan, ketika pengakuan pada akhirnya datang, tentu saja itu bukan urusan sim salabim dan kebetulan belaka. Tetapi, itu merupakan buah manis dari kebiasaan kita menjaga standar pekerjaan.
Mengawali karier di tim kecil Sunderland, pernah dianggap FIFA pemain muda yang harus dilihat
Kapten tim Liverpool, Jordan Henderson pernah merasakan siklus hidup seperti itu. Jauh sebelum "pegal mengangkat trofi" seperti sekarang dan didaulat sebagai pemain terbaik Inggris 2019, Henderson pernah merasakan periode pahit dalam hidupnya.
Dia sering diremehkan. Pekerjaannya acapkali dianggap tidak becus. Bahkan tidak dianggap sebagai yang terbaik di bidangnya.
Henderson yang kelahiran 17 Juni 1990, sejatinya 'pendatang' di Liverpool. Maksudnya, dia tidak tumbuh besar bersama akademi sepak bola Liverpool. Terlahir di keluarga yang mendukung tim Sunderland membuatnya ikut menjadi suporter tim berjuluk The Black Cat tersebut.