Mohon tunggu...
Gus Noy
Gus Noy Mohon Tunggu... Administrasi - Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009, asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari).

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Menulis Merupakan Sebuah Gaya Hidup Terkini

6 Juni 2017   19:02 Diperbarui: 6 Juni 2017   19:44 432
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menulis, menurutku, adalah …
Menulis, menurutmu, adalah …
Menulis, menurutnya, adalah …

Setiap orang memiliki anggapan masing-masing mengenai kegiatan tulis-menulis. Meski sekadar bagian dari sebuah tren suatu era, setiap orang yang menulis di status media sosial pun memiliki alasan atau pendapat yang berbeda-beda apabila ditanyakan, “mengapa Anda menulis”.

Paling tidak, seperti pertanyaan sederhana dan berulang selama bertahun-tahun, “Apa yang Anda Pikirkan?”. Jawabannya pun bermacam-macam, kecuali gambar kaku atau gambar gerak-rancak (video). Jawaban bisa satu huruf, satu tanda baca, atau panjang.   

Menulis

Pengertian “menulis”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring (www.kbbi.kata.web.id), salah satunya, adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Dan, masih ada beberapa pendapat orang atau ahli mengenai “menulis”, apa itu “menulis”, yang dapat dicari di internet.

Salah satu pengertiannya tertera di www.pengertianbahasa.blogspot.co.id. Di blog itu pada 13 Februari 2013 Cinta Lestari mengatakan, secaraumummenulis dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan media tulisan.  

Sementara arti “penulis”, salah --- entah apa salahnya --- satunya adalah “orang yang menulis”.

Itu kalau dilihat dari arti “penulis” sebagai “orang yang menulis”. Selain memang pekerjaan sehari-hari sebagai sekretaris, panitera, atau wartawan, ada juga yang sekaligus karena hobi atau yang dikenal dengan penulis atau pengarang.

Dan setiap orang memiliki alasan dan anggapan masing-masing ketika menjadikan tulisan sebagai media mengekspresikan diri, mengaktualisasikan diri, mengeksistensikan diri, atau alasan-alasan lainnya. Apakah alasan-anggapan tersebut berlaku dalam tempo sesaat atau sampai suatu masa tertentu kelak, tentunya, lumrah-sah-bebas-jamak. Hal paling sederhana, ya, menulis di status atau komentar pada kolom jejaring media sosial.

Gaya Hidup


 Setiap manusia normal (berintelegensi umumnya) memiliki gaya hidup (lifestyle). Gaya hidup setiap orang belum tentu sama. Misalnya, gaya hidup sederhana, gaya hidup mewah, gaya hidup hedonis, gaya hidup agamis, gaya hidup sehat, dan lain-lain.

Ya, bergaya untuk hidup. Sedikit gaya; banyak gaya, asalkan hidup. Sesuatu yang hidup pasti memiliki gaya. Gaya hidup jangan sampai mati gaya. Dan seterusnya antara gaya dan hidup dalam permainan kata-kata.

Istilah “gaya hidup” (lifestyle) pertama dicetuskan oleh Psikolog Austria Alfred Adler (1870-1937) pada 1929 untuk menyebutkan karakter dasar seseorang yang dibangun sejak kanak-kanak. Gaya hidup merupakan bagian dari kebutuhan sekunder yang bisa berubah, tergantung keinginan manusia yang berkaitan dengan situasi zamannya.

Menurut Suratno dan Rismiati (2001), gaya hidup adalah pola hidup seseorang dalam dunia kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat yang bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan.

Menulis sebagai Sebuah Gaya Hidup

Di era jejaring media sosial selama sekitar dua dekade (sejak internet mudah dijangkau oleh banyak kalangan) menulis sudah bisa dikatakan sebagai sebuah gaya hidup sebagian orang, yang kemudian dikenal dengan istilah “warganet” (netizen). Kemudahan memiliki gawai (gadget), dan mendapatkan bahan (bacaan), kegiatan tulis-menulis ternyata sangat digemari banyak orang.

Kalau sebagian masih menjadikan kegiatan tulis-menulis sekadar menyampaikan pemikiran yang singkat terhadap suatu berita atau opini, sebagian lainnya lebih mendalami kegiatan ini sebagai kesempatan untuk mengasah kemampuan berbahasa tulisan dalam penyampaian pemikiran, baik dalam bentuk esai atau opini maupun sebuah karya tulis-menulis yang benar-benar menguras pikiran dan waktu.

Sepakat atau tidak, menulis telah menjadi sebuah gaya hidup. Tidak lagi “sekadar” atau sebatas kebutuhan sekunder, menulis telah menjadi bagian keseharian bagi banyak kalangan warganet sebagaimana pengertian gaya hidup menurut Suratno dan Rismiati tadi.

Menulis memang merupakan sebuah gaya hidup. Dan, tidak akan pernah ada, bahwa menulis merupakan sebuah gaya mati, kecuali mati gaya karena situasi persoalan hidup yang sedang menjadi prioritas untuk diselesaikan.

********

Panggung Renung Balikpapan, 6 Juni 2017

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun