Sekurangnya, cara pembuatan sopi dan tuak bisa dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembuatan sopi dan tuak di Flores masih dikategorikan sebagai industri rumahan. Ya, karena skala produksinya masih tergolong kecil. Begitu juga dengan skala prioritasnya, misalnya.
Tapi, selama satu dekade terakhir, para pengrajin miras lokal di Flores sudah semakin banyak. Mungkin sebagian dari mereka merasa bahwa usaha pengembangan gula aren kurang menjanjikan sehingga memilih banting setir jadi pengrajin miras lokal.
Harus diakui memang bila usaha miras lokal cukup menguntungkan dibandingkan gula aren. Bicara terkait harga sopi dan tuak Flores, pada dasarnya memang variatif. Tergantung racikan si pembuatnya sih.
Untuk segelas sopi kualitas no 1 misalnya, dihargai Rp 5.000,00. Sementara untuk sopi satu botol (kemasan 600 ml) dihargai Rp 30.000,00. Dan untuk satu jerigen jumbo Rp 700,000,00.
Harga sopi dan tuak di atas merupakan harga yang diterima di muka si pengrajinnya. Tidak tahu lagi ketika sudah berada di tangan orang kedua, mungkin sudah berubah lagi.
Sopi dan tuak dari daerah saya, Manggarai Barat, biasanya dibeli oleh orang-orang yang datang dari Flores Timur untuk tujuan adat. Sementara sisanya disimpan untuk kebutuhan sendiri dan juga untuk tetangga sekitar yang mengadakan acara.
Konsumsi sopi dan tuak dapat menyehatkan
Konsumsi miras lokal tidak selalu mendatangkan kemudaratan. Ada juga sisi manfaatnya kok.
Kandungan alkohol (OH) yang terdapat di dalam sopi dan tuak memang dapat memabukkan dan membuat diri terlihat goblok jika jumlah miras yang kita tenggak sudah tidak terkontrol lagi. Sebaliknya, jika diminum sesuai takaran dan/atau disesuaikan dengan kebutuhan, maka otomatis kesehatan kita akan terjaga. Sesederhana itulah kira-kira ya.
Jadi, tetap kembalinya pada setiap pribadi saja sih. Soal baik-buruk, mudarat-manfaatnya miras itu tergantung dari cara kita memanfaatkannya.