Bila menghela narasi seputar masa panen cengkeh di desa, peran buruh petik sangatlah penting. Tanpa andilnya, proses pemetikan cengkeh pasti molor dan memakan waktu lama.
Terlebih bila menakar kebun cengkeh yang luasnya sampai berhektar-hektaran, rekrutmen tenaga kerja dan/ atau buruh petik pasti jumlahnya berjibun.
Tak lagi susah dicari
Berbeda dengan musim panen cengkeh tahun-tahun sebelumnya, sulit sekali untuk mencari buruh petik di desa. Berangkat dari hal itu, kami kerap mendatangkan orang dari luar kecamatan, bahkan dari luar kabupaten.
Tapi tahun ini sedikit dimudahkan, lantaran ada banyak orang di desa yang bisa dimintai tenaganya untuk sama-sama memetik cengkeh.
Hal ini berkesadaran pada banyaknya anak-anak muda maupun orang tua yang sudah pulang ke kampung dari tanah rantauan. Mereka pulang karena faktor ekonomi dan ketidakjelasan nasib.
Kebanyakan dari mereka adalah korban pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan di tengah pandemi COVID-19.
Terkhusus di desa saya, Pacar, Manggarai Barat, ada sekitar ratusan orang yang sudah pulang kampung.
Beberapa hari yang lalu, saya sempat berkeliling desa untuk mencari buruh petik cengkeh. Beberapa di antara mereka yang saya jumpai itu adalah buruh petik langganan kami. Jumlahnya ada 7 orang.
Ihwal memasuki musim panen setiap tahunnya, mereka sudah menjadi penolong setia kami. Selebihnya karena mereka adalah orang-orang yang sudah dipercayai dan profesional dalam bekerja.
Pada saat yang bersamaan, saya juga menemui beberapa orang yang ada di desa tetangga untuk membantu. Kebetulan anak-anak muda ini adalah mereka yang baru pulang kampung tadi. Kini mereka hanya menganggur di desa.
Mereka akhirnya setuju ketika saya meminta mereka untuk membantu saya memetik cengkeh.
"Bro, sampe kae pua cengkeh ding ta e.. (Nanti bantu saya metik cengkeh ya)" pinta saya
"Iyo kae, siap! Saet kosong seng rongko ho gah.. (Siap! Lagian mau cari uang rokok juga, kak)" jawab mereka santai
Pasalnya, untuk musim panen cengkeh musim ini paling tidak mencari sampai 15 orang buruh petik. Jumlah ini disesuaikan dengan volume pohon cengkeh yang berbuah.
Lazimnya orang-orang yang kami mintai bantuannya untuk memetik cengkeh adalah mereka yang benar-benar ulet dan terampil memetik cengkeh. Kalau dalam istilah lokalnya adalah 'Riket Tuke Haju'. Keuletan ini secara personal tidak di miliki oleh semua orang.
Karena pada dasarnya menjadi buruh petik cengkeh adalah salah satu pekerjaan yang sangat berisiko. Di karenakan harus menaiki pohon cengkeh yang tinggi-tinggi. Sebab kalau jatuh, kecil kemungkinan untuk selamat.
Sehingga untuk meminimalisir risiko kerja, penting untuk di antisipasi sedini mungkin.
Musim panen cengkeh sendiri akan dimulai awal Juni 2020 ini. Dikarenakan bunga cengkeh di kebun sudah mulai sedikiit matang dan kuning kemerah-merahan.
Upah Buruh Petik
Upah pekerja dan/ atau buruh merupakan salah satu diskursus yang proporsinya tidak kalah penting.
Sistem upah buruh cengkeh di desa saya dan mungkin umumnya di reksa wilayah Manggarai Barat tidaklah jauh berbeda. Yakni, sama-sama di hitung per harian kerja.
Terkhusus untuk kami, setiap harinya buruh petik ini diberi upah Rp 70.000 per orang. Nominal ini belum termasuk dengan akomodasi lain seperti untuk biaya makan minum (mamin), rokok dan transportasi. Jika di kalkulasikan, banternya sehari Rp 100.000 untuk perorangnya.
Kemudian para buruh petik ini menanggung beban kerja selama 7 jam setiap harinya. Terhitung dari jam 07.00 pagi sampai 16.000 sore.
Tetap kembalinya pada kontrak kerja dan/ atau kesepakatan awal antar si pemilik kebun dengan buruh petik. Enaknya seperti apa, biar fair.
Kami dirumah biasanya memberikan insentif kepada buruh petik di akhir musim panen. Akan tetapi intensifnya buka berupa uang, melainkan menggeratiskan 2 sampai 3 pohon cengkeh untuk mereka petik sendiri. Hasilnya juga untuk mereka.
Hal ini sudah menjadi kebiasaan dari sang Bapak sejak dulu. Entah, ini mungkin yang dinamakan dengan strategi menggaet hati agar musim panen berikutnya para buruh petik ini bersedia untuk dimintai kesediaannya lagi. Hehehe
Salam@R GT
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI