Sebagai agama dengan total pemeluk 2,04 juta jiwa di Indonesia, Agama Buddha termasuk minoritas. Tidak heran jika banyak hal yang belum diketahui tentang agama Buddha.
Jangankan umat beragama lainnya, saya seringkali masih menemukan kesalahan persepsi dari penganut agama Buddha sendiri.
Namun sebelumnya perlu juga diketahui, bahwa agama Buddha tidak hanya sejenis saja. Ada tiga mazhab terbesar, yaitu Theravada (Ajaran Para Sepuh), Mahayana (Kereta Besar), dan Tantrayana (Vajrayana).
Dari ketiga kelompok besar ini, tersebar lagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Ini belum termasuk dengan adanya majelis atau aliran lain yang memisahkan diri atau bercampur dengan kepercayaan lain.
Namun meskipun berbeda, tidak terdapat dalam Dhamma dan Vinaya tentang pola pikir sinkritis. Atau dengan kata lain, jika agama Buddha bercampur dengan adat istiadat, budaya setempat, atau keyakinan-keyakinan lain, maka tidak ada perbedaan di sana.
Karena pada dasarnya ajaran Dhamma adalah universal. Hanya saja, adalah manusia yang sering salah menafsirkan. Sehingga tidak heran jika beberapa miskonsepsi pun terjadi.
Untuk itu mari kita mulai membahas beberapa kesalahpahaman yang sering terjadi
Bahwa agama Buddha mengajarkan sikap pesimis
Ajaran Buddha banyak membahas tentang Dukkha (penderitaan), bahwa hidup ini adalah penderitaan. Dan satu-satunya cara agar terlepas dari penderitaan adalah dengan menerimanya apa adanya.
Di dalam Dhamma dan Vinaya, Hyang Buddha tidak hanya mengajarkan tentang Dukkha saja. Ada juga Sukkha / Kebahagiaan.
Namun, yang diajarkan oleh Sang Buddha bukan tentang sikap optimis atau pesimis. Bahwa Dukkha dan Sukkha adalah realita hidup, merupakan dua sifat yang berpasangan, seimbang, dengan fenomenanya yang muncul tenggelam (Anicca). Oleh sebab itu, diperlukan kebijaksanaan agar seseorang tidak melekat kepadanya (Anatta).