Mohon tunggu...
grover rondonuwu
grover rondonuwu Mohon Tunggu... Buruh - Aku suka menelusuri hal-hal yang tersembunyi

pria

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Natal yang Bukan Natal

23 Desember 2019   13:19 Diperbarui: 23 Desember 2019   21:26 194
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Sebenarnya bukan hanya saudara Muslim yang tidak sadar bahwa lagu-lagu Natal dijaman moderen ini tidak mencerminkan tentang kelahiran Yesus seperti yang diceritakan alkitab.

Banyak orang kristen juga tidak menyadarinya. Mereka pikir dalam lagu ada kata Christmas,  pastilah lagu itu tentang Yesus yang lahir. Tidak jarang lagu-lagu natal yang liriknya tidak berbeda dengan lagu-lagu Ed Sheeran itu , dinyanyikan dalam ibadah Natal. 

Nikmati Saja Suasananya

Natal di negara Barat,  dirayakan bukan hanya oleh orang Kristen, tapi juga oleh kalangan agnotisme dan ateisme, yang jumlahnya  juga sangat banyak. 

Natal adalah hari libur bagi semua, baik bagi yang kristen maupun yang bukan Kristen.  Natal adalah suasana musim dingin. Suasana libur dimusim dingin inilah yang dieksploitasi kapitalisme untuk menggandakan produk-produknya. Atribut dan lagu-lagu adalah alat perangsang mendorong konsumerisme. 

Tapi setiap tahun di Indonesia, ada saja larangan supaya Mall-Mall jangan menggunakan atribut Natal dan jangan  memutar lagu-lagu Natal. Motif larangan, bukan karena alasan anti kapitalisme melainkan ketakutan tanpa dasar pada agama Kristen.

Padahal atribut Natal yang dihias di Mall-Mall banyak yang tidak khas Kristen. Misalnya topi merah dan jubah merah penemuan Coca-Cola yang saya terangkan  diatas  itu.

Banyak atribut Natal itu,hanyalah strategi bisnis belaka,  tidak ada sangkut pautnya dengan Kelahiran Yesus seperti yang disaksikan alkitab.

Atribut Natal di Mall-Mall Indonesia, bisa kita temukan juga dikota-kota besar  dinegara-negara  Arab, seperti di Dubai, Ryad, Cairo,Damaskus, Istanbul. Dikota-kota itu kita akan menemukan pohon natal menjulang dengan lampu warna-warni yang spektakuler.

Hiasan Natal dikota-kota besar didunia Arab, bukan suatu indikasi bahwa Kekristenan telah mewabah disana. Sama sekali tidak. Yang benar adalah kapitalisme sudah mencengkram kehidupan masyarakat didunia Arab. Natal adalah perayaan mereka juga. Tentu perspektive mereka merayakan Natal berbeda dengan orang Kristen merayakannya. Mungkin mereka merayakannya sebagai hari libur saja. 

Makanya kalau anda melihat atribut Natal, nikmati saja warna-warninya. Jika anda mendengar lagu Natal di Mall nikmati saja, kalau perlu ikut bergoyang supaya hati riang. Jangan takut,  akidah anda tidak akan terganggu karena anda ikut bernyanyi atau ikut bergoyang.  Karena banyak lagu bertema Natal itu, bukan tentang kelahiran Yesus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun