Ketika bola sudah melewati lini tengah, para pemain bertahan akan membentuk trio dengan garis pertahanan tinggi. Tujuannya mengunci serangan balik lawan jika mereka kehilangan bola. Lewis Ferguson, Remo Freuler ataupun Giovani Fabbian yang posnya di lini tengah juga tidak segan-segan melakukan pelanggaran dalam counter-pressing, khas timnya Jose Mourinho.Â
Dengan gambaran ini, bisa disimpulkan makna tersirat dari formasi 2-7-2 yang pernah dilontarkan Motta bukan dilihat secara vertikal dari lini belakang ke depan. Tetapi dari kiri ke kanan.
Dua pemain menyisir di sisi kiri, tujuh pemain (termasuk kiper) berada di rusuk lapangan, dan dua pemain ada di sisi kanan. Musim ini Bologna memang jarang melakukan serangan melalui pinggir lapangan. Kemampuan mereka mempertahankan bola patut diacungi jempol, karena bukukan statistik 58.3 persen. Salah satu yang tertinggi di Serie A.
Masa Depan Thiago Motta, Bologna dan Sepakbola Italia
Peran sebagai pemimpin disrupsi strategi di Italia tentu akan bisa dijalankan Motta jika ia tetap berkompetisi di Serie A. Sejauh ini hanya Manchester United, klub luar Italia yang sempat dihubungkan dengannya di awal musim depan.
Menjadi baik baginya jika bertahan semusim lagi di Bologna, untuk merasakan atmosfer Champions League musim depan. Tentu jika ini terjadi, namanya akan termashsyur di Bologna yang terakhir pernah merasakan aroma Piala Champions di medio tahun 1960-an.
Tetapi cukup baginya hingga akhir musim depan, lalu naik kelas dengan menangani klub top Italia. Pasalnya, Bologna hingga sekarang masih menjadi klub dengan finansial pas-pasan. Pemain intinya sendiri banyak yang merupakan pinjaman seperti Remo Freuler, Saelemaekers dan Victor Kristiansen.
Rekrutan emas seperti Calafiori, Fabbian dan Zirkzee merupakan upaya pribadi Motta mengembangkan pemain murah ini dengan strategi bermainnya. Jika mereka mengkilap, manajemen Bologna pasti akan luluh dengan tawaran harga mahal. Thiago Motta butuh kondisi yang stabil untuk tunjukkan kapasitasnya.
Agen Motta, Dario Canovi, sempat membuat pernyataan bombastis kala mengejek Aurelio Di Laurentiis (Presiden Napoli) dengan mengatakan kliennya tidak akan pindah ke Napoli karena presidennya terlalu ikut campur. Tetapi jika tawaran tersebut datang di kemudian hari, why not?
Napoli punya kestabilan finansial yang lebih baik dibandingkan Bologna, dan Thiago Motta membutuhkan itu untuk lonjakan kariernya. Jika tidak, mungkin ia bisa menunggu AC Milan atau Juventus memecat Pioli dan Allegri.
Jika ia bisa membuktikan strategi-asimilasinya dengan gelar domestik, pasti pelatih lokal lainnya akan mengikuti jejaknya. Sebab yang Motta lakukan benar-benar up-to date. Strategi sepakbola bukan hanya sebuah formasi, tetapi seni peran!