Mohon tunggu...
Khus Indra
Khus Indra Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Pecinta Sastra dan Seni |\r\nPengagum pemikiran Friedrich Nietzsche | Pengkritik ulung

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Apa yang Tersisa dari 'Yang Disisakan'?

23 April 2014   15:40 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:18 27
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pemimpin pluralis merupakan pahlawan bagi mereka ‘yang disisakan’. Mencari pemimpin seperti ini, seperti mencari jarum dalam setumpuk jerami. Pemimpin seperti ini juga harus punya keberanian ekstra untuk menghadapi kelompok yang radikal dan berusaha untuk bertindak represif terhadap ‘yang disisakan’. Ini adalah konsekuensi yang harus dijalankan. Capres 2014 sekarang seharusnya tahu akan masalah ini. Saya berharap agar mereka tidak terjebak dalam politik koalisi bagi-bagi kursi. Tetapi, membentuk koalisi yang memiliki visi yang sama untuk bersama menyelesaikan konflik-konflik horizontal seperti ini.

Kebebasan bukanlah kemewahan yang patut dinikmati, ia adalah kewajiban yang harus dipenuhi bagi sesama manusia. Dengan kebebasan pula, kemungkinan baru untuk menyelesaikan konflik dapat dicari. Dan, ini bukan pekerjaan yang mudah bagi pemimpin nanti. Masalah pluralisme hanya salah satu dari sekian ribu masalah yang ada di negeri ini. Tetapi, optimisme harus ada. Kita sudah diingatkan oleh lirik lagu lennon yang terkenal dengan nuansa perdamaian itu, “Imagine”.

Apakah dalam pemilihan presiden juli nanti, ada capres yang membahas secara detail mengenai ‘yang disisakan’ ini? Saya rasa ‘yang disisakan’ ini tetap menjadi bahan yang tersisa dari perbincangan mereka, dan bukan menjadi bahan utama. Kembali utopia.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun