Ketiga, membangun caption dengan konteks kekinian. Selain foto yang diedit, caption/tulisan menjadi 'kompor' provokasi. Karena editan baju dan topi berkalimat Tauhid saja kadang tidak cukup 'greget'.
Caption dalam foto editan diatas secara tidak langsung 'menjaring' publik secara umum. Terutama umat Islam untuk bisa tersadar dan bergerak mendukung kubu yang pro umat mayoritas. Dan insinuasi pada satu kubu pun terbaca. Mungkin karena salah satu kubu begitu giat pada isu-isu agama seperti ini.
Guna menghindar jerat hukum pada oknum/kelompok pengunggah. Sistematisasi dan hirarki distribusi diperlukan. Jika foto editan bohong ini terbongkar. Posting pun akan di-delete post lalu akun pun ditutup. Pun dengan beberapa lapisan proxy, pengunggah akan cukup sulit untuk dilacak.Â
Sehingga, membuat berita bohong dengan editan foto tidak semudah yang dibayangkan. Pun mungkin bukan satu/dua orang yang memfabrikasi foto ini dengan isu aktual.
Belum lagi berita bohong dengan bentuk narasi/video. Jika perekayasa tidak luas dan beragam cakupan sumber ilmu dan informasi. Akan mustahil tercipta narasi yang begitu persuasif kebohongannya.
Karena narasi hoaks akan mencampur aduk fakta, data, dan argumentasi. Belum lagi menambahkan sisi sensasionalis dalam cerita yang diposting di sosmed.
Jika seni mural/grafitti masih banyak pro-kontranya. Akan tetap ada oknum yang mengkomersialisasi seni ini. Dan mungkin hal inilah yang nampak pada fabrikasi berita bohong.Â
Yang pro tentu mereka yang memiliki kepentingan politis/ekonomi. Sedang merek yang kontra adalah orang waras dan berpijak pada fakta.
Salam,
Solo, 26 Oktober 2018
11:06 pm