Pertanyaannya, mengapa praktik ini terus-menerus ada dalam dunia kerja dan anehnya lagi kenapa tetap ada mahasiswa yang terjebak?
Bagi saya jawabannya adalah karena mahasiswa tidak punya pilihan, ada tiga alasannya:
- Magang sebagai syarat kelulusan
- Kebutuhan untuk dunia kerja
- Power relations
Untuk poin satu dan dua dapat membuat mahasiswa untuk mengurungkan niat menjadi "selektif" dalam memilih perusahaan.
Poin pertama kita tahu bahwa magang adalah salah satu persyaratan untuk kelulusan dengan bobot sekian SKS dan diambil saat semester-semester akhir.Â
Mahasiswa juga bisa saja mengambil magang di semester awal, asalkan perusahaan membuka lowongannya dan meminta surat pernyataan magang.Â
Namun, perusahaan yang paid biasanya lebih selektif atau bahkan memiliki persyaratan layaknya mencari pekerja purnawaktu. Kondisi ini membuat mahasiswa mengalami penolakan terus-menerus selagi mereka dikejar waktu untuk lulus.
Alhasil, mahasiswa menjadi cenderung tidak atau kurang selektif untuk memilih perusahaan apapun yang mau menerimanya, bahkan yang unpaid sekalipun dan terjebak dalam perusahaan yang eksploitatif.
Padahal tujuan mereka cuman satu, yaitu memenuhi bobot SKS supaya bisa mengambil skripsi dan kemudian lulus.
Sama halnya dengan poin kedua, saat kuliah mahasiswa dituntut untuk tidak hanya mengedepankan akademik tapi juga pengalaman kerja maupun organisasi.
Namun, setelah lulus tampaknya perusahaan lebih memilih kandidat yang punya pengalaman kerja dibanding organisasi. Jokes yang beredar benar adanya, ketika fresh graduate mengikuti wawancara kerja dan ditanya pengalaman kerja oleh HRD. Padahal, mereka baru saja lulus dan ingin mencari pengalaman kerja.
Kalau seperti itu, pengalaman kerja yang bisa ditempuh salah satunya adalah magang. Tapi apakah HRD atau user bertanya detail terkait pengalaman magang mahasiswa?Â