Pada Minggu malam (21/10) Luis Milla Aspas menulis salam perpisahan lewat akun instagramnya. Selain ucapan terima kasih, komentar ayah dari Paulita Milla ini mengindikasikan bahwa kata profesionalitas masih bukan menjadi kata sepadan untuk menseskripsikan PSSI.Â
"Hari ini bukan hari yang mudah bagi saya, karena saya tidak akan melanjutkan sebagai pelatih Timnas Indonesia," tulis Milla di paragraf pertama caption instagramnya.
"Sebuah proyek yang lebih dari 1.5 tahun telah berakhir, meskipun dimana manajemen yang jelek, miskin, pemutusan kontrak yang konstan, dan rendahnya profesionalisme para pemimpin (PSSI) selama 10 bulan terakhir. Saya pergi dengan perasaan telah melakukan kebaikan. Pekerjaan Indonesia akan selalu menjadi kampung halaman saya yang kedua, karena saya menghargai betapa baik kota ini (Jakarta) memperlakukan istri dan assistan saya juga saya sendiri", lanjutnya.
Walaupun tak ada trofi yang bisa dikenang untuk menceritakan Luis Milla kepada anak-cucu kita, sekurangnya kita bisa menceritakan jika dulu Indonesia pernah kedatangan dua pelatih hebat disatu musim yang sama: Luis Milla dan Mario Gomez.Â
Meskipun Gomez masih menangani Persib dan entah kapan dia hengkang dari Indonesia. Saya rasa kata "pernah" disana hanya soal urusan waktu, eks tangan kanan Hector Cuper itu sudah memberi sinyal ketidaknyamanan dengan kebijakan PSSI.
Budaya Kontrak Jangka Pendek
Kompetisi sepak bola di Indonesia menyandang title yang sama tak ubahnya di Liga Primer Inggris: kompetitif. Tidak ada Juventus, Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen, atau PSG yang kerap mendominasi Liga. Kita lebih sering menonton klub X yang juara di musim ini lalu terpuruk di musim berikutnya.
Konon, semua berawal ketika klub-klub lokal menyusui dari dana APBD. Rencana anggaran hanya dikalkulasi untuk satu musim liga, otomatis kontrak pemain dan pelatih pun disesuaikan.Â
Dengan durasi kontrak yang pendek berdampak pada kekompakan tim, sebelum memulai kompetisi baru tim kembali mengadakan seleksi pemain bukan untuk menambal kelemahan tim tapi berkat tidak sehatnya aktivitas transfer pemain dan tim harus memulai semuanya dari titik nol. Bahkan lebih kejam lagi dialami oleh para pelatih.
Mereka kerap diberi waktu singkat, padahal dalam melatih butuh proses panjang. Target juara, kontrak jangka pendek, dan kemungkinan gaji yang terhambat. Hal tersebut sangat tidak ideal untuk klub yang tampil di Liga utama. Celakanya, kebiasaan tersebut terbawa sampai klub disapih dari dana APBD/berbentuk perseroan.