Mohon tunggu...
Giens
Giens Mohon Tunggu... Penulis - freelancer

I like reading, thinking, and writing.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

(Horor Koplak) Siluman Langit-langit

12 Januari 2017   23:52 Diperbarui: 26 Januari 2017   13:36 526
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selesai nge-print, azan dhuhur berkumandang. Aku ambil wudu dan berniat salat dhuhur di ruang tengah, tempatku biasa salat. Saat itulah tiba-tiba saja hidungku mengendus bau aneh, mirip bau daun pandan. Kuendus kanan kiri, baunya tidak berubah intensitasnya; maka aku mendongak ke atas. Pandanganku menyapu langit-langit ruangan setinggi dua setengah meteran hingga terpaku pada aperture alias bukaan di salah satu sudutnya. Bukaan itu sekira dua jengkal sisinya, difungsikan untuk memastikan cahaya matahari yang melewati genting kaca bisa ikut menerangi ruangan. Tapi ada yang aneh. Di sudut bukaan itu ada menyembul sesuatu berwarna putih berbelang rapat.

Semula kukira kulit ular yang sudah dilepas. Wah, bikin ngeri saja. Bisa ketakutan nanti anak-anak dan ibunya. Biar kuambil saja. Maka kuambil tongsis panjang yang biasa kugunakan untuk memasang lampu. Kucolak, kucolek, kok susah digerakkan, yaa? Seperti barang kaku saja. Tiba-tiba..

GLUNDUNG!

Benda itu menggelundung dari plafon, tetapi tidak jatuh. Terlihat gulungan putih sebesar jempol kaki di sana. Kusentuh lagi pakai tongsis lampu supaya jatuh, malah menggelundung lagi dan hilang dari pandangan.

Penasaran, kuseret meja ke bawahnya, lalu aku naik dan tanganku meraba-raba ke bukaan tadi. SLAP. Kudapat juga gulungan itu. Kuamati sebentar dan …buajigurrrr, ternyata kalender yang kucari-cari.

Lho, siapa yang iseng meletakkan kalender di situ?

Kuperhatikan jarak horizontal antara ruang salat dan lemari baju memang hanya dua meteran. Tapi kalau ulah usil anak-anak sepertinya tidak mungkin, apalagi ibunya. Lalu siapa? Tengah aku melamunkan sejuta pertanyaan… eh kebanyakan; beberapa pertanyaan tadi, tiba-tiba terdengar sesuatu di langit-langit.

GRUDUG..GRUDUG.. GRUDUG..

Oo, mungkin spesies ratatouille yang melakukannya, begitulah aku memaknai bunyi itu sebagai jawaban atas pertanyaanku. Tapi… kalau memang tikus, bagaimana ia bisa memanjat dinding dua setengah meteran, apalagi membawa gulungan kalender? Kalau memanjat lemari baju memang mungkin, ada sudut yang bisa dijadikan pijakan, tapi apa iya si tikus punya ilmu meringankan tubuh dan bersalto di antara kabel lampu dan kabel kipas angin yang terjulur ke langit-langit ruangan? Dan lagi, buat apa tikus mengoleksi kalender? Tiba-tiba terdengar suara lagi dari langit-langit kamar tengah tadi. Kali ini suaranya berbeda,

KELOPLAK..KELOPLAK..KELOPLAK..

Suaranya mirip suara sandal jepit yang sedang dipakai berjalan oleh mbak-mbak (umumnya dengan bemper belakang berukuran mantap). Sandalnya bukan diangkat, melainkan diseret, mungkin demi menjaga amplitudo osilasi goyangannya. Hasilnya, bagian belakang sandal dengan tumit pemakainya berkolaborasi membentuk bunyi perkusi. Ini fakta, loh. Terus kenapa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun