Akan tetapi Saya lupa menelpon ibu Saya tentang cuaca yang ganas. Sore hari Saya pergi bersama Bapak Saya ke Lampineung, tempat acara penataran SPADYA sejak bulan September 1995 sampai 16 Januari 1996.
Kami makan malam bertiga, Saya duduk di tengah pada ujung meja panjang, Bapak Saya duduk di sisi kanan dan temannya duduk di sisi kiri.
Saat makan dan selesai makan keduanya duduk hening sekali" ANEH" Saya yang bingung mengapa sikap Mereka berdua dingin sekali.
Akhirnya dua-dua orang ini serta istrinya tenggelam bersama kapal KMP Gurita dan hilang selamanya.
Sejenak Saya melupakan kedua orang tua Saya dan berangkat ke Lhok Seumawe untuk mengurus proposal PKL dan ujian semester.
Hari kamis, 18 Januari 1996, hanya disuruh ambil kembali proposal di ruang pembimbing tetapi rupanya proposal tertinggal di rumahnya. Rencana Saya mau balik ke Sabang hari itu karena Jumat, 19 Januari 1996 tidak ada ujian, Sabtu ujian, Senin libur, Selasa Libur, Rabu ujian. Baju-baju sudah siap di dalam tas tinggal berangkat.
Rencananya, Kamis, 18 Januari 1996, malam hari jam 22:00 WIB berangkat ke Banda Aceh. Sampai pagi hari, istiharahat sejenak di Banda Aceh. Hari Jumat siang, 19 Januari 1996, Saya langsung ke Sabang. Bila rencana ini Saya jalankan maka.......WASSALAM.......
Akan tetapi takdir ALLAH SWT berkata lain.
Rupanya pada tanggal 17-19 Januari 1996, kapal KMP Gurita naik dok, penumpang sangat banyak karena memasuki awal puasa pada hari senin, 22 Januari 1996.
Hari Jumat siang, 19 Januari 1996, kapal KMP Gurita keluar dok dan menuju pelabuhan Malahayati. Normalnya kapal KMP Gurita berangkat jam 15:00 WIB, tetapi berangkat pada jam 18:45 WIB dan tenggelam pada jam 20:30 WIB.
Alhamdullilah Saya selamat dan diberi umur panjang oleh ALLAH SWT hingga 18 tahun lagi sampai sekarang bisa menulis artikel ini.