Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Rumah Adat Wologai yang Memuliakan Mama

14 Juli 2018   12:28 Diperbarui: 24 Juli 2018   15:35 2410
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lahan bagian atas tempat upacara adat ini posisinya ada di tengah-tengah kampung. Wisatawan tidak diperkenankan masuk ke area atas ini, kecuali pada saat upacara adat besar dilangsungkan. (Foto: Gapey Sandy)

Penataan rumah ke rumah di kampung ini sengaja dibentuk melingkar mengitari Tubu Kanga atau pelataran atau altar paling tinggi yang biasa dipakai sebagai tempat ritual adat. Bangunan rumah punya panjang sekitar 7 meter dengan lebar 5 meter, dengan tinggi banguan rumah sekitar 4 meter sementara atapnya mungkin bisa sampai 3 meter.

Rumahnya bertingkat dan biasanya di kolong rumah dijadikan tempat memelihara ternak. (Foto: Gapey Sandy)
Rumahnya bertingkat dan biasanya di kolong rumah dijadikan tempat memelihara ternak. (Foto: Gapey Sandy)
Penataan kampung berbentuk lingkaran, dan semua rumah-rumah adat menghadap area tengah sebagai tempat melaksanakan upacara adat. (Foto: Gapey Sandy)
Penataan kampung berbentuk lingkaran, dan semua rumah-rumah adat menghadap area tengah sebagai tempat melaksanakan upacara adat. (Foto: Gapey Sandy)
Karena rumah-rumah adat di sini bertingkat, maka pada bagian kolong rumah atau lewu dulunya dimanfaatkan untuk memelihara ternak, babi, ayam dan lainnya. Sedangkan ruang tengah sudah pasti digunakan menjadi tempat tinggal. Lotengnya sebagai tempat menyimpan barang-barang yang akan digunakan saat ritual adat.

Sesudah hampir mengitari sekeliling perkampungan, sampailah kami di rumah Bapak Tua. Sesuai sebutannya, ia memang sudah tua meski belum terlalu renta. Dengan ramah, sosok berkaos kerah warna abu-abu kehitaman ini keluar rumah dengan senyum yang hangat dari balik pintu kayu rumah. Rambutnya sudah beruban. Kulitnya legam. Tapi perawakannya kekar.

"Nama saya Aloysius Leta. Usia saya 64 tahun. Istri saya bernama Maria. Anak saya ada tujuh orang, dan cucu saya sepuluh orang dan semuanya laki-laki," ujar Bapak Tua memperkenalkan diri.

Aloysius Leta salah seorang warga yang mengaku sudah merupakan generasi ke-13 dari Suku Lio di Kampung Tradisional Wologai Tengah, Ende, Flores. (Foto: Gapey Sandy)
Aloysius Leta salah seorang warga yang mengaku sudah merupakan generasi ke-13 dari Suku Lio di Kampung Tradisional Wologai Tengah, Ende, Flores. (Foto: Gapey Sandy)
Karya ukiran dan pahatan bentuk rumah adat di Kampung Tradisional Wologai Tengah, Ende, Flores. (Foto: Gapey Sandy)
Karya ukiran dan pahatan bentuk rumah adat di Kampung Tradisional Wologai Tengah, Ende, Flores. (Foto: Gapey Sandy)
Aloysius mengaku sebagai generasi ke-13 dari Suku Lio yang masih mempertahankan adat dan keaslian Kampung Tradisional Wologai Tengah. Ia juga menjadi semacam juru bicara dari para tetua adat. Tak heran, apabila ada tamu atau wisatawan yang datang, maka ia yang akan bertugas menemani dan memberi berbagai penjelasan. "Kampung adat ini merupakan yang tertua di Kabupaten Ende. Adat istiadatnya sangat terpelihara dengan baik dan sangat kental kami jalankan," tuturnya.

Ia melanjutkan, jumlah rumah-rumah adat yang ada di Kampung Tradisional Wologai berjumlah 22 bangunan. Terdiri dari 6 bangunan rumah upacara adat, 4 buah bangunan lain, dan 12 bangunan lainnya merupakan rumah hunian masyarakat adat. "Rumah yang saya huni ini namanya Sa'o Soko Ria. Semua rumah bentuknya sama, tapi namanya beda-beda," ujarnya.

Di Wologai Tengah ini, ujar Aloysius, rumah sangatlah bermakna. "Rumah adalah mama, benar-benar mama. Karena itu, pada setiap kiri dan kanan pintu yang ada di bangunan rumah adat sini, selalu terpajang patung kayu maupun ukiran yang (maaf) berwujud buah dada mama. Jadi, rumah itu adalah mama, menurut kepercayaan adat Suku Lio di sini," ujarnya seraya menambahkan bahwa suasana perkampungan saat ini sunyi karena ini adalah Hari Minggu dan hampir semua orang pergi beribadah ke gereja.

Menjemur buah kopi di Wologai Tengah. (Foto: Gapey Sandy)
Menjemur buah kopi di Wologai Tengah. (Foto: Gapey Sandy)
Menjemur kemiri di Wologai Tengah. (Foto: Gapey Sandy)
Menjemur kemiri di Wologai Tengah. (Foto: Gapey Sandy)
Adapun gambar-gambar yang ada di ukiran kayu sisi luar teras rumah banyak mengandung arti nilai-nilai harga diri dari seorang mama. Artinya begini, kalau rumahnya itu sendiri adalah merupakan simbol dari mama, maka ukiran dan pahatan yang beraneka gambar ini adalah nilai-nilai yang melambangkan harga diri mama.

"Karena begitu berharganya mama, maka kami warga Suku Lio mengangkat mama ke permukaan. Tanpa mama mungkin sunyi. Mama sangat mulia dalam ciptaan Tuhan, maka kita sangat menghormati mama. Dari mama, oleh mama, untuk mama. Jadi kita sebagai laki-laki tidak boleh kesana--kesini, harus setia. Dari rahim, oleh rahim, untuk rahim, tanpa Mama sunyi," jelasnya.

Ditambahkan Aloysius, kedudukan mama sangat tinggi dibandingkan dari semua yang ada di kehidupan manusia. "Mama sangat berharga, sangat mulia dalam ciptaan Tuhan," jelasnya sambil menyebutkan bahwa di Kampung Tradisional Wologai Tengah ini tercatat ada 33 kepala keluarga. "Sedangkan jumlah warganya mencapai 230-an jiwa."

Ukiran di sisi tangga masuk rumah menjadi keunikan sekaligus keindahan tersendiri karena mengandung berbagai makna filosofis selain menjadi saksi bisu sejarah dan perjalanan waktu juga. (Foto: Gapey Sandy)
Ukiran di sisi tangga masuk rumah menjadi keunikan sekaligus keindahan tersendiri karena mengandung berbagai makna filosofis selain menjadi saksi bisu sejarah dan perjalanan waktu juga. (Foto: Gapey Sandy)
Ukiran di sisi luar rumah. (Foto: Gapey Sandy)
Ukiran di sisi luar rumah. (Foto: Gapey Sandy)
Dalam satu tahun, lanjutnya lagi, ada dua kali upacara adat besar (Keti Pare) yaitu ketika pasca panen -- padi, jagung, kacang-kacangan -, sekaligus memberi makan-minum untuk para leluhur atau dinamakan Pati Ka. "Pelaksanaannya selama satu bulan yaitu pada tanggal 25 Agustus sampai 25 September. 

Sedangkan upacara lainnya dalam skala kecil (Keti Uta), dilaksanakan setiap bulan. Misalnya, pasca panen pucuk daun bunga buah yang pertama. Acaranya kami laksanakan selama satu minggu. Pelaksanaan upacara-upacara adat ini dilakukan di rumah-rumah adat yang memang dikhususkan untuk upacara adat," urainya.

Khusus pada setiap tanggal 14 Agustus, Suku Lio melakukan upacara adat Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata di Danau Kelimutu. "Tidak semua warga hadir ke Kelimutu, paling tidak hanya tetua adat atau mosalaki saja," jelasnya. 

Apa saja larangan para tamu dan wisatawan selama berkunjung di kampung ini?

Aloysius menjelaskan, jangan masuk ke area tengah perkampungan. "Ada larangan yang berlaku di sini dan harus dipatuhi. Khususnya areal yang ada di bagian tengah perkampungan ini. Bagi para pengunjung atau wisatawan yang hadir, belum diizinkan masuk ke areal tengah perkampungan untuk sementara, sampai upacara adat dilangsungkan. Artinya, ketika upacara adat besar tadi dilaksanakan, maka kami membuka izin seluas-luasnya kepada pengunjung atau wisatawan yang hadir untuk bisa masuk ke area pertengahan kampung," urainya.

Lahan bagian atas tempat upacara adat ini posisinya ada di tengah-tengah kampung. Wisatawan tidak diperkenankan masuk ke area atas ini, kecuali pada saat upacara adat besar dilangsungkan. (Foto: Gapey Sandy)
Lahan bagian atas tempat upacara adat ini posisinya ada di tengah-tengah kampung. Wisatawan tidak diperkenankan masuk ke area atas ini, kecuali pada saat upacara adat besar dilangsungkan. (Foto: Gapey Sandy)
Batu-batu besar yang dibentuk pipih lalu disusun bertingkat-tingkat dan berundak. Di atas itulah tempat warga Suku Lio di Kampung Tradisional Wologai Tengah melakukan upacara adat. (Foto: Gapey Sandy)
Batu-batu besar yang dibentuk pipih lalu disusun bertingkat-tingkat dan berundak. Di atas itulah tempat warga Suku Lio di Kampung Tradisional Wologai Tengah melakukan upacara adat. (Foto: Gapey Sandy)
Selain itu, katanya pula, ada satu batu di atas area pertengahan kampung ini, yang disebut batu ajaib. "Pengunjung atau wisatawan tidak boleh menyentuhnya," ujar Aloysius.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun