4. Menyanjung
Weh. Siapa sih, yang nggak seneng disanjung? Anak kecil saja suka, apalagi orang dewasa?
Segera saya katakan bahwa bos suami saya itu terlihat top, sehat dan fit. Big boss memang punya masalah kesehatan dan harus dirawat di Jerman setahun sekali. Hari itu, meski tanpa jas, beliau tampak ganteng dan segar. Hidungnya yang bangir, kembang-kempis.
Ini beda dengan flirting, lho!
5. Membukakan pintu mobil
Karena sudah siap untuk berangkat ke restoran, kami segera menuju mobil yang sudah ada di depan pintu hotel. Saya bukakan pintu untuk beliau di bagian belakang. Apa yang big boss lakukan? Beliau membukakan pintu depan dan mengatakan “Lady first.“ Meski nggak nyangka beliau akan begitu, saya cepat-cepat mengucapkan terima kasih dan tertawa kecil. Hal itu terjadi lagi setiba di restoran!
Selama jalan kaki dari mobil ke hotel atau dari mobil ke restoran, saya selalu gandengan tangan/lengan dengan suami. Itu salah satu petunjuk bagi si bos bahwa anak buahnya punya kehidupan yang mapan dan harmonis. Bukankah itu mempengaruhi kualitas kerja seseorang?
6. Menanyakan kabar anak-anak dan istri
Begitu duduk dan memesan minuman dan makanan, kami ngobrol. Suasana di detik-detik pertama hening, sampai saya memulai menanyakan kepada kemenakan si bos yang diajak. Pria seumuran adik saya itu terlihat makin langsing berkat program diet makanan (hanya makan ikan, salat dan buah) dan berolahraga (fitness) yang teratur. Saya tanya apa pendapat istrinya tentang perubahan fisik suaminya. “She’s very happy!“ Dan kami pun tertawa bahagia.
Pertanyaan tentang anak-anak dan suami juga saya layangkan kepada big boss.
“I feel happy and unhappy that my daughters have already grown up. Happy because they’re already independent but unhappy as we manytimes felt lonely without them. We watched TV together, I am in the left chair and my wife in the right chair but both have Smartphones. Few years ago, they were most of the times around us in the livingroom.“