Belum lagi prakteknya yang beberapa kali nyaris membuat kebakaran. Seperti saat isolasi minyak atsiri sereh yang saking labu berisi sereh sudah kehabisan air membuat labu itu pecah dan meledak. Menjadikan Praktek Farmakognosi sebuah momok tersendiri. Belum lagi seorang dosen yang paling killer menjadi pengampu untuk mata kuliah ini. Ahh, meskipun pelajarannya banyak yang saya lupakan, tapi kehororannya jelas saya tak mungkin lupa.
“Kalau minyak sereh yang dicari di sini sitronelalnya, lada hitam dicari oleum lisinnya. Kalau masoyi, laktonnya,” cerita Pak Markhaban.
Minyak atsiri atau yang sering disebut minyak terbang, terdiri dari bermacam-macam jenis tergantung dari tanaman penghasilnya. Minyak atsiri sejatinya merupakan zat alami yang terdapat dalam tumbuhan yang umumnya memberikan aroma khas tumbuhan. Setiap minyak atsiri, memiliki susunan senyawa yang rumit namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab pada aroma tertentu yang dihasilkan.
Untuk mendapatkan minyak atsiri, diperlukan penyulingan dari tanaman menggunakan teknik-teknik tertentu. Terdapat banyak teknik-teknik isolasi minyak atsiri. Titik didih simplisia serta sifat kelarutan senyawa dalam minyak atsiri merupakan beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih teknik isolasi.
Terdapat dua bagian ruang utama untuk isolasi di pabrik atsiri ini. Bangunan untuk isolasi dengan cara detilasi memiliki ruangan yang begitu besar. Dengan beberapa lubang-lubang besar bekas penempatan alat-alat destilasi uap sekala pabrik. Serta sebuah bangunan yang cenderung lebih sempit tempat dilakukannya isolasi dengan cara ekstraksi. Kedua bangunan ini terpisah, namun keduanya dihubungkan dengan sebuah jembatan.
Karena tentunya ini lebih menjamin uap tidak bocor ataupun menyebabkan ledakan saat perjalanan menuju alat destilasi. Selanjutnya, uap itulah yang akan memisahkan minyak atsiri dari tanamannya. Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap. Nantinya, minyak atsiri akan ikut menguap bersama uap yang dialirkan ketika minyak atsiri sudah mencapai titik didihnya. Uap air bersama uapan minyak selanjutnya akan mengalir menuju saluran pendingin. Uap yang sudah terdinginkan selanjutnya akan terbentuk kembali menjadi air dan minyak. Dari sinilah selanjutnya pemisahan antara air dan minyak bisa dilakukan.
Pak Markhaban meminta kami membaui sisa kulit masoyi yang masih tertinggal di alat pemotong yang kecil. Aroma khas Masoyi masih kuat tercium. Kulit masoyi ini merupakan tanaman terakhir yang disuling di pabrik atsiri ini. Pak Markhaban selanjutnya beranjak ke alat pemotong berwarna kuning. Bentuknya seperti monster yang sedang menguap kalau menurut saya. Alat pemotong ini dulu digunakan untuk memotong simplisia yang cenderung lebih ringan. Seperti daun-daun sereh. Sementara untuk yang bertekstur keras semacam kulit masoyi, menggunakan alat yang lebih kecil tadi.
Dahulu pabrik ini gulung tikar, karena minyak atsiri yang didapat tidak memenuhi kualitas. Susahnya mendapat bahan baku yang sanggup menghasilkan minyak atsiri berkualitas menjadi salah satu alasannya.
Minyak atsiri, merupakan komoditas ekspor agroindustri potensial. Peluang pasarnya tetap wangi sesemerbak aroma-aroma atsiri yang dihasilkan. Meskipun untuk mendapat kualitas ekspor bukanlah hal yang mudah.
Yah, semoga lewat museum atsiri ini, nantinya siapa tahu bisa menginspirasi tumbuhnya pengusaha-pengusaha ataupun petani-petani sukses yang mampu menciptakan minyak atsiri yang baik yang sanggup memenuhi kualitas ekspor hingga devisa negara pun bisa semakin meningkat.
Meskipun museum atsiri ini pernah mengalami masa-masa kelam ketika masih menjadi pabrik, semoga museum ini di masa depan mampu menjadi tempat wisata pengetahuan yang mencerahkan.