Di tengah pelajaran, hati Doni tidak tenang. Ia masih kepikiran soal insiden tabrakan tadi pagi.
Ia berpikir bagaimana nasib tukang bakso itu setelah Doni menghancurkan gerobak bakso yang menjadi mata pencahariannya.
Budi yang daritadi melihat Doni yang sedang melamun bertanya kepada Doni apa yang sedang dipikirkannya. Doni yang sudah tidak kuasa memendam kejadian tadi pagi menceritakan yang sebenarnya kepada Budi.
Budi kaget mendengar cerita Doni. Ia lantas menyarankan Doni untuk memberitahu kedua orang tuanya untuk menolong tukang bakso tersebut.
Awalnya, Doni takut apabila ia menceritakan kejadian tabrakan itu kepada orang tuanya akan marah. Tetapi setelah diyakinkan oleh Budi, Doni menjadi memiliki keberanian untuk mengungkapkan insiden tersebut kepada ayah dan ibunya.
Lagipula, apabila Doni tetap terus mengurungkan niatnya menolong tukang bakso tersebut, ia akan tetap dihantui perasaan bersalah tersebut.
Sorenya, ketika ayah Doni pulang kerja. Ia menjelaskan peristiwa tadi pagi kepada ayah dan ibu. Ayah yang mendengarnya seketika marah. Tetapi, melihat kejujuran Doni, hati ayah menjadi luluh dan bersedia membantu Doni.Â
Mereka pun bersama-sama pergi mencari tukang bakso tersebut. Karena tidak tahu alamat si tukang bakso, mereka bertanya-tanya kepada warga setempat di lokasi insiden tabrakan itu.
Ada seorang warga yang tahu alamat tukang bakso tersebut. Ia mengantarkan Doni berserta kedua orang tuanya ke rumahnya.
Setelah mereka sampai, Doni melihat gerobak bakso yang telah hancur di depan halaman tukang bakso tersebut. Doni memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya.
Tukang bakso tersebut membukakan pintu dengan ditemani istrinya yang menggendong anaknya yang masih kecil.