Buta warna adalah salah satu gangguan penglihatan yang jarang disadari oleh banyak orang, terutama pada anak-anak. Kondisi ini sering kali muncul tanpa gejala yang mencolok, sehingga tidak sedikit orang tua yang terlambat mengetahuinya. Padahal, buta warna memiliki dampak besar terhadap kehidupan anak, terutama dalam hal pendidikan dan interaksi sosial. Pemahaman yang mendalam tentang apa itu buta warna, penyebabnya, serta cara pencegahan sangat penting untuk memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal.
Apa Itu Buta Warna?
Secara medis, buta warna adalah ketidakmampuan seseorang untuk melihat atau membedakan warna tertentu secara normal. Dalam dunia medis, istilah ini dikenal sebagai color vision deficiency. Pada kondisi ini, penglihatan anak tidak dapat mengenali warna dengan akurasi yang sama seperti anak-anak pada umumnya.
Buta warna bukan berarti seseorang hanya bisa melihat hitam dan putih, meskipun jenis tersebut yang disebut buta warna total atau monokromasi memang ada. Jenis yang paling sering ditemukan adalah buta warna parsial, khususnya pada spektrum warna merah-hijau (deuteranomali atau protanomali). Sebagai gambaran, anak dengan buta warna merah-hijau mungkin kesulitan membedakan warna daun hijau dari warna cokelat atau merah terang dari oranye.
Fenomena ini tidak hanya memengaruhi cara anak memandang dunia, tetapi juga bagaimana mereka memahami dan merespons lingkungan sekitar. Misalnya, anak yang memiliki gangguan ini mungkin salah memilih krayon ketika menggambar pohon, atau kesulitan membaca grafik berwarna di sekolah.
Mengapa Anak Bisa Mengalami Buta Warna?
Sebagian besar kasus buta warna pada anak disebabkan oleh faktor genetik. Gen yang bertanggung jawab atas kondisi ini diwariskan dari orang tua, khususnya melalui kromosom X. Karena itu, anak laki-laki lebih sering mengalami buta warna dibandingkan perempuan. Data menunjukkan bahwa sekitar 8% laki-laki di dunia memiliki buta warna, sedangkan pada perempuan, angkanya hanya sekitar 0,5%.
Namun, genetik bukan satu-satunya penyebab. Ada beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi kemampuan penglihatan warna seorang anak. Misalnya, paparan bahan kimia tertentu seperti pestisida dan timbal dapat merusak retina atau saraf optik. Gangguan ini juga bisa terjadi akibat penyakit tertentu, seperti diabetes atau kelainan mata bawaan seperti katarak kongenital.
Selain itu, kondisi prenatal dapat berkontribusi terhadap risiko buta warna. Ibu yang mengalami malnutrisi selama kehamilan, terpapar bahan kimia berbahaya, atau memiliki komplikasi kehamilan lain berisiko melahirkan anak dengan gangguan perkembangan mata, termasuk buta warna.
Tantangan yang Dihadapi Anak dengan Buta Warna