Sandi memapah Aswin menuju pemukiman penduduk terdekat untuk mencari pertolongan. Mereka memutuskan masuk ke dalam hutan untuk mencari lokasi penduduk.
"Sepertinya hutan ini lumayan angker. Dari awal masuk tadi aku melihat kuntilanak di atas pohon. Sekarang, di sebelah kiri kita ada pocong dan atas pohon pinus sebelah kanan arah jam 2 juga ada kuntilanak. Suara tertawanya menakutkan ....", Aswin coba meyakinkan kakaknya.
"Iya, aku dari tadi juga melihat banyak sekali mahluk halus menakutkan di hutan ini. Suaranya berisik sekali", Sandi menimpali.
Tiba tiba Sandi melihat dari kejauhan ada sosok bayangan ibu dan anak perempuannya yang seperti sedang mencari kayu di hutan.
"Bu, tolong kami!" Sandi setengah berteriak.
Ibu dan anak perempuan tadi yang awalnya berjalan ke arah menjauh, kemudian berbalik arah mendekat ke arah Sandi dan Aswin.
"Sepertinya mereka mendengar suara Kakak tadi. Tapi aku kok agak khawatir. Jam selarut ini, masih ada yang mencari kayu bakar ... jangan jangan ....", Aswin mulai tampak ketakutan.
"Sudah, nggak usah berpikir aneh aneh. Yang penting kita dapat pertolongan, Win. Orang desa biasanya baik-baik", Sandi mencoba menyemangati adiknya.
Ketika mendekat, Ibu dan anak perempuan tadi malah yang terkejut, "Lho kalian ini yang tadi kecelakaan, ya? Suaranya benturannya keras sekali. Terus, kenapa wajah kalian kok sama?", tanya sang ibu.
"Eh ... kami saudara kembar, Bu. Makanya wajahnya sama. Dan iya kami yang tadi kecelakaan bus menabrak warung tadi, Bu.
Ibu itu menjawab, "Sebulan lalu juga ada kecelakaan bapak bapak usianya sekitar 50 tahun. Naik mobil terus nabrak motor. Terus sama yang naik motor dibunuh ..."