Dari latar belakang tersebut maka dengan adanya teknologi campuran beraspal menggunakan limbah plastik ini diharapkan dapat mendukung dalam pengolahan limbah plastik dan mengurangi banyaknya limbah plastik yang belum terolah dalam rangka mendukung aksi nasional pengendalian sampah di laut.
Program selanjutnya adalah teknologi rumah RISHA. Menurut yang disampaikan Bapak Arief kemarin, rumah RISHA ini sudah banyak dibangun di Indonesia. Sebagian besar pembangunannya berada di pulau Kalimantan dan Aceh yang dimana telah diterapkan sebanyak kurang lebih 10.000 unit pasca Tsunami tahun 2004 silam, dan saat ini kota Bandung sudah mulai memanfaatkannya juga dengan adanya workshop pembangunan rumah RISHA di daerah Cileunyi, Bandung Timur.
Rumah Risha ini merupakan rumah layak huni dan terjangkau yang dapat dibangun secara bertahap berdasarkan modul, dengan waktu yang diperlukan dalam proses pembangunan setiap modul adalah 24 jam oleh tiga pekerja. Karena ukuran komponen mengacu pada ukuran modular maka komponennya memiliki sifat fleksibel dan efisien dalam konsumsi bahan bangunan.
 Keunggulan pembangunan rumah RISHA ini :
- Lebih cepat, karena pembangunannya dapat dilakukan dalam 3 hari.
- Lebih Murah, karena komponen bahan bangunan yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan modul  sehingga budget pembangunannya pun lebih murah dibanding rumah konvensional.
- Lebih Ramah Lingkungan, karena menggunakan bahan dan komponen berdasarkan modul.
- Lebih tahan gempa, hal ini telah dibuktikan dengan diterapkannya rumah RISHA di Aceh yang dimana potensi terhadap gempa cukup besar.
- Movable, karena pembangunan rumah RISHA dapat dibongkar pasang dan berpindah -- pindah.
Keunggulan lainnya dari rumah RISHA ini yaitu tahan lama, karena rumah RISHA dapat terus digunakan hingga 50 tahun jika dalam kondisi sering bongkar pasang atau penghuni rumah berpindah -- pindah tempat. Sedangkan jika dari awal pembangunan tidak dilakukan bongkar pasang, maka ketahanannya pun akan semakin lama juga.
Program Balitbang PU ketiga adalah penyedia Fasilitas Pejalan Kaki menuju Kota Hijau, yang dilakukan oleh bagian PUSJATAN (Puslitbang Jalan dan Jembatan). Menurut Ibu Nathalia Tanan selaku Perwakilan dari Puslitbang PUSJATAN, program penyediaan fasilitas pejalan kaki ini sangat erat hubungannya dengan program P2KH (Program Pengembangan Kota Hijau) Â yang diusung oleh Balitbang PU sejak tahun 2011 lalu, karena dengan bertambahnya penduduk dari waktu ke waktu maka fasilitas seperti kendaraan bermotornya pun akan ikut bertambah. Maka dari itu dengan diadakannya program penyedia fasilitas pejalan kaki ini diharapkan dapat menambah semangat masyarakat untuk mau berjalan kaki mengurangi pencemaran dan polusi udara karena berkurangnya pengguna kendaraan bermotor, dan mengurangi kemacetan.
Dengan alasan tersebut, Puslitbang PUSJATAN merasa memiliki tanggung jawab untuk menyediakan dan menyiapkan infrastruktur atau fasilitas bagi pejalan kaki. Ibu Nathalia Tanan juga berharap dapat bekerja sama dengan Pemkot dan Pemda masing -- masing daerah untuk dapat ikut mendukung dalam program penyediaan fasilitas pejalan kaki ini. Karena Puslitbang PUSJATAN hanya berwenang dalam penyediaannya saja sedangkan untuk selanjutnya masih diperlukan komunikasi  yang komprehensif antara Balitbang PU dengan pemkot maupun Pemda yang bersangkutan. Sehingga akan tercipta suasana yang kondusif antara masyarakat dengan pemerintah.
Fasilitas Pejalan Kaki ini juga memiliki hubungan yang kuat dengan Walkability (kelayakan berjalan) karena merupakan dukungan keseluruhan untuk lingkungan pejalan kaki. Walkability memperhitungkan konektivitas jalur berjalan, kualitas fasilitas pejalan kaki, kondisi jalan, pola penggunaan lahan, dukungan masyarakat, dan keamanan dan kenyamanan untuk berjalan.
Setiap pejalan kaki pasti membutuhkan fasilitas yang baik. Apalagi saat ini pejalan kaki bagai dinomor duakan oleh para pengguna kendaraan bermotor, sehingga dibutuhkan kesadaran yang tinggi pula dari setiap masyarakat tentang pentingnya berjalan kaki.