3. Menikah Terencana
Menikahlah terencana, baik itu soal ekonomi, jumlah tanggungan kedepan dan kehidupan sosial serta kehidupan agamis. Seperti Quran Surat Adzariyat : 49 Dan segala sesuatu kami jadikan berpasangan (suami-istri) agar kamu ingat kebesaran Allah.
Maka menikahlah untuk kebaikan semua. Pernikahan itu harus terencana dari diri sendiri, kapan, dengan siapa, jangan direncanakan orang tua ataupun orang lain. Karena akan berdampak buruk bagi kehidupan berumah tangga. Kasih sayang akan berbeda jika pernikahan bukan terenca berdasarkan suka sama suka.
Malah hal tersebut akan menjadikan mudharat dalam pernikahan. Jika tak ada kasih sayang, maka akan timbul KDRT. Kemudian pernikahan terencana ini juga merencanakan masa depan. Terutama soal keturunan, bagaimana tumbuh kembang anak, pendidikan, kesehatan dan lainya menyangkut anak.
Sifat para Nabi dan Rasul selalu mengupayakan yang tebaik untuk keluarga dan anak-anaknya. Maka kita dizaman ini juga harus memberikan yang terbaik bagi istri dan anak nantinya. Kembali lagi soal pendidikan harus dapat kita rencanakan, agar istri dan anak bisa mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. Itu merupakan tanggung jawab suami profetik.
Selain itu keluarga juga harus direncanakan agar dapat mengingat kebesaran tuhan sebagaimana ayat diatas tadi. Di agama lainnya juga sebagai seorang suami haruslah dapat mengenalkan kebesaran tuhannya agar keluarga tak tersesat dalam hal religiusitas.
4. Aktif Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Kehidupan bermasyarakat penting menjadi indikator untuk suami profetik. Aktif bermasyarakat akan menambah wawasan serta dapat membandingkan kehidupan kita dengan lainnya. Membandingkan dalam artian yang positif. Dalam hal ini suami dapat mendorong keluarga agar menjadi pribadi-pribadi yang filantropi.
Menolong fakir miskin, anak yatim orang-orang yang termarjinal adalah output dari pentingnya seorang suami aktif dalam kehdupan bermasyarakat. Hal ini dijelaskan dalam Quran Surat Al Ma’un. Tentang bagaimana menolong fakir miskin, anak yatim dan orang-orang termarjinal lainnya. Poin keempat ini adalah bekal suami profetik.
Selain itu, keaktifan itu dapat menggiatkan kita pada hal-hal positif seperti bergotong royong, bakti sosial serta mengakrabkan diri dengan masyarakat lain. Itu merupakan protect bagi keluarga terhindar dari rindakan-tindakan kriminal. Semakin banyak aktif dalam kehidupan masyarakat, maka akan semakin tercipta kekeluargaan antar masyarakat.
Poin itu juga sebagai cara dalam memberikan perlindungan bagi keluarga. Seorang suami profetik yang berpendidikan dapat menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu dengan modal ketidaksombongan dan kepintaran dalam berkomunikasi yang baik.