Angkot bergegas pergi mencari penumpang yang lain.
Saat itu, tidak ada penumpang yang memakai topi biru. Mungkin supirnya baru sadar kalau dia ditipu nanti ketika bercermin. Iya, supir angkot naas tersebutlah yang memakai topi biru. Sungguh ajaib memang kelakuan si A. ini yang bego siapa? Temen saya atau supirnya?
***
Teman saya juga pernah mengalami kerugian secara finansial akibat macet. Yang bukan gara - gara si komo lewat. Tapi kalau dipikir - pikir, komodo lewat di tengah Jakarta itu memang aneh. Tapi menurut saya tidak menimbulkan kemacetan, Cuma keheranan. Yang menimbulkan kemacetan itu kalau pejabat lewat. Semua kendaraan diintruksikan menepi dengan pengeras suara dari motor polisi militer. Mobil yang berhenti di pinggir demi lewatnya itu si pejabat jelas saja menambah intensitas kemacetan. katanya wakil rakyat, tapi kalau macet, ia tidak mau mewakili. Sialan!
Jadi ceritanya, teman saya dari Passer Baroe, hendak menuju rumah untuk pulang. Sampai daerah SetiaBudi, jalanan macet total dan jam menunjukkan pukul empat. Mereka mengejar pukul delapan atau sembilan untuk berada di Kemang guna menghadiri acara ulang tahun teman saya yang lain. Mereka ke Passer Baroe untuk membeli piranti kamera. Ternyata macet di SetiaBudi tidak ada akhirnya. Perut lapar. Tukang bakpao dan bakpao di tepi jalan menggoda lidah.
"Bang, bakpaonya dua"
"Yang rasa apa?"
"Ayam aja"
"Nih dek"
"Jadi berapa?"
"Dua jadi delapan ribu"