Pada era digital, media sosial telah menjadi panggung baru bagi banyak profesi, termasuk guru. Tidak hanya sebagai pendidik di ruang kelas, guru kini juga hadir sebagai konten kreator di platform seperti Youtube, Facebook, Instagram dan Tiktok. Fenomena ini membawa dampak yang signifikan, baik dalam membangun citra profesi guru maupun dalam mengubah cara masyarakat melihat dunia pendidikan. Namun, seiring dengan pesatnya tren ini, muncul bebagai kritik yang perlu di renungkan.
Dalam konteks ini, penulis mencoba untuk mengaitkan dengan beberapa poin yang dibahas oleh Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya Camera Branding yang dirasa sangat relevan. Buku ini membahas bagaimana citra diri, baik personal maupun profesional dapat dibangun melalui media visual. Prof. Rhenald mengingatkan bahwa autentisitas, narasi yang kuat dan fokus pada tujuan utama adalah kunci keberhasilan dalam memanfaatkan kamera sebagai alat branding. Apalagi kamera di era saat ini sudah melekat pada ponsel kita masing-masing. Namun, apakah nilai-nilai ini telah sepenuhnya diinternalisasi oleh para guru yang membuat konten tersebut?
Kamera Sebagai Alat, Bukan Tujuan
Guru yang hadir dalam dunia konten digital menyajikan konten yang beragam, mulai dari metode pengajaran inovatif, seluk beluk dunia profesi guru, hingga cerita inspiratif di dunia pendidikan. Mereka memanfaatkan kamera sebagai alat untuk menyampaikan pesan kepada audiens yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan gagasan Camera Branding bahwa kamera dapat menjadi media komunikasi yang efektif jika digunakan dengan benar.
Namun, tentangan muncul ketika kamera justru menjadi tujuan, bukan alat. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam keinginan untuk viral, sehingga konten yang dihasilkan cenderung dangkal dan kehilangan esensi pendidikan. Sebagai pendidik, tugas utama adalah memberikan manfaat edukasi, bukan sekedar mengejar jumlah pengikut atau popuaritas.
Autentisitas : Kunci Membangun Trust
Autensisitas adalah salah satu nilai utama yang mampu menangkap ketulusan seseorang. Prof Rhenald mengistilahkan dengan Cameragenic vs Auragenic. Cameragenic ini menyangkut menariknya sebuah subjek di depan kamera dan kesan yang ditampilkan dari tampilan fisik dan membuatnya tampak menyenangkan ketika dilihat banyak orang. Auragenic lebih pada tampilan unik seseorang yang mampu membuat orang lain merasa nyaman, tenang dan bahangia hanya dengan melihat atau mendengar kata-katanya dengan menampilkan yang asli, jujur dan proporsional. Sayangnya dalam upaya membangun citra, beberapa guru justru kehilangan keaslian mereka. Konten yang dibuat kerap kali terasa dipaksakan atau tidak relevn dengan karakter asli mereka sebagai pendidik.
Guru yang autentik mampu menunjukkan diri mereka apa adanya, baik dalam mengajar maupun dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya berbagi pengalaman nyata di ruang kelas, tantangan yang dihadapi, dan solusi  yang ditemukan. Ketulusan ini tidak hanya membangun kepercayaan diantara audiens tetapi juga menguatkan citra profesi guru di masyarakat.
Storytelling : Lebih dari Sekedar Mengajar
Salah satu kekuatan media sosial adalah kemampuannya untuk menyampaikan cerita. Guru pembuat konten yang berhasil adalah mereka yang mampu menggunakan storytelling untuk menginspirasi dan mendidik. Dalam Camera Branding, storytelling disebut sebagai elemen penting dalam membangun narasi yang kuat.