Makanya dalam melaksanakan pembangunan negerinya, Pemerintah Bhutan sangat berhati-hati, keseimbangan benar-benar dijaga benar.
Terutama untuk masalah keseimbangan kualitas hidup dan pembangunan spiritual serta material. Pemerintah fokus menciptakan kondisi agar warganya selalu bahagia.
Untuk itu, pemerintah Bhutan terus melakukan perbaikan standar hidup warganya. Perawatan kesehatan dan pendidikan diberikan cuma-cuma kepada warganya.Tak lupa juga mereka menanamkan nilai-nilai kemanusian sejak dini.
Selain itu, sejak anak-anak mereka dibekali dengan pelajaran tentang pelestarian alam, termasuk berbagai upaya dalam melakukan daur ulang sampah.
Menurut Indian Times, Pemerintah Bhutan sejak tahun 2013 sudah mencanangkan setiap bahan pertanian yang mereka tanam harus organik dan selaras dengan alam.
Tak cukup sampai disitu, untuk urusan penggunaan sumber daya energi pun semaksimal mungkin yang tidak menimbulkan polusi dan mengganggu kualitas udara.
Bahkan Bhutan dinobatkan menjadi negara pertama yang karbonnya negatif. Bhutan menghasilkan emisi 1,5 juta ton karbon dioksida sedangkan 60% kawasan negara itu adalah hutan yang mampu menyerap 6 juta ton karbondioksida.
Selain melestarikan alam dan lingkungan hidup, Bhutan juga menjaga benar kelestarian budayanya. Kerajaan yang berdiri di atas gunung ini menjadi rumah bagi pelestarian budaya kuno yang bersandingan dengan keindahan alam.
Perhatian dan pendekatan kultural dan spritual penuh kehangatan serta perhatiannya terhadap pelestarian limgkungan membuat rakyat Bhutan begitu bahagia lantaran mereka puas dengan hidupnya.
Hidup mereka tidak materialistis dan lebih memilih hidup dalam ketenangan. Pemerintah Bhutan tak segan-segan menolak investasi yang dinilai dapat mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan spiritual rakyatnya.
Meskipun demikian, kondisi ini tak menyelesaikan seluruh masalah yang terjadi di Bhutan. Terdapat sejumlah faktor yang membuat kondisi di Bhutan masih butuh perbaikan yakni faktor kesenjangan pendapatan dan pengangguran.