Prabowo berharap sebenarnya seperti itu 'Platform' yang ia ingin sampaikan sembari dari dinamika yang ada Ganjar juga bisa belajar, mengingat Prabowo hanya memimpin 1 periode dan tentunya Ganjar dinilai bisa belajar sama halnya Jokowi. Tapi memang, kesempatan tetap pada Prabowo dahulu. Toh keduanya bukan pada posisi antitesa melainkan sustainabilitas.
Kalau analisa yang bisa ditangkap justru kepemimpinan yang akan ditampilkan jika benar Stratejik-Populis ini bersatu yaitu Prabowo Subianto-Ganjar Pranowo, bukan Ganjar Pranowo-Anies Baswedan karena jelas secara ideologis akan terjadi resistensi atau perlawanan jadi isu liar saja. Prabowo-Ganjar adalah keniscayaan sebagai gambaran kepemimpinan layaknya skema kepemimpinan ala Perancis yang semi-Presidensial dimana ada Presiden dan Perdana Menteri atau kepemimpinan Organisasi yang memiliki Ketua Umum dan Ketua Harian atau yang bisnis seperti CEO dan Managing Director.Â
Dwitunggal yang ingin ditampilkan seperti itu. Sama halnya kepemimpinan yang ingin disepakati sejak Batutulis, Wapres lebih dominan seperti Perdana Menteri di Semi-Presidensial, dimana Wakil Presiden akan diberikan tugas teknis dan manajemen sehari-hari dimana paling mudah jika Rapat Kabinet mungkin Presiden hanya garis besar selebihnya Wakil Presiden bahkan bisa memutuskan utamanya scope berkaitan dengan perekonomian yang fokusnya adalah kerakyatan. Sementara Presiden hanya berfokus pada kajian tingkat tinggi dimana ia akan sering pada pola stratejik yang keluar negeri atau komunikasi lembaga politik tingkat tinggi dan berkenaan dengan pertahanan dan kewibawaan negara. Wakil Presiden yaitu Ganjar jelas, pada proses mobilisasi dan eksekusi atas program konkrit bahkan diberi hak pula menentukan sebagian Menteri yang kelak membantu dia secara clear.
Maka demikian wajar jika Populis untuk konteks 2024 cocok untuk kepemimpinan 'Papan 2' dimana ia akan banyak berperan pada keseharian dan 'Papan 1' sakral namun tetap penting yaitu akan fokus maju pada pertahanan kedepan dengan pola yang lebih luas, global. Mungkin belajar pada manajemen Partai Gerindra sejak Prabowo menjadi Menhan, dimana ia dibantu Ketua Harian yaitu Sufmi Dasco Ahmad (Wakil Ketua DPR RI) yang bertugas sudah seperti Ketua Umum dan memang sudah lebih mafhum dalam manajemen tatakelola yang lebih internal maupun kebawah.Â
Bisa jadi Populis akan mulai digunakan kembali pada periode selanjutnya untuk mengawal 2029 hingga 2034 yaitu puncak dari Bonus Demografi dimana butuh kepemimpinan yang mampu menjawab pada isu pragmatisme pada sosial dan kemanusiaan yaitu pemberdayaan antara potensi manusia dengan kolaborasi dengan elemen-elemen lain pembangunan. Ganjar cocok soal itu karena cukup banyak terbukti di Jawa Tengah, gaya yang ia tampilkan bisa sinkron.Â
Hanya untuk 2024, biar ia sebagai 'Perdana Menteri' atau 'Ketua Harian' dulu, jadi 'Presiden' atau 'Ketua Umum' nya yang maju dulu dalam scope yang lebih stratejik. Anak muda juga memahami seperti itu karena suhu yang digambarkan adalah 2014 dan 2024 sangat berbeda, kalangan usia muda kini lebih progresif dan persoalan progresivitas musti dinilai pada percaturan dunia yang lebih relevan dan seorang Presiden harus bisa tampil merespon itu semua.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI