Di Jepang, salah satu tujuan utama sekolah adalah untuk mengajarkan karakter. Sejak kecil, siswa menghabiskan waktu bertahun-tahun di sana sebagai bagian dari kelompok. Mereka belajar menjadi anggota kelompok, bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan kelompok, dan bekerja dalam kelompok. Keluarga di Jepang juga menunjukkan dukungan yang kuat untuk pendidikan. Para Ibu di Jepang, diharapkan untuk cuti bahkan pensiun selama kehamilan dan mengabdikan hidup mereka untuk membesarkan anak-anak mereka. Di sisi lain, pihak sekolah akan selalu menegur orang tua jika anaknya tidak mengerjakan PR, karena hal tersebut dianggap sebagai tanggung jawab orang tua.
Kedua, motivasi pribadi untuk belajar. Mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, pernah berkata bahwa nobody owes us a living. Frasa ini mungkin merujuk pada masa ketika rakyat Singapura belum merdeka, yang masih bergantung pada kekuatan asing untuk melindungi mereka. Prinsip ini menjadikan orang Singapura mandiri dan pekerja keras.
Tanggung jawab pribadi yang kuat juga tercermin dalam pendidikan di Singapura. Sekolah di sana sangat kompetitif dan les privat adalah suatu bisnis yang menjanjikan. Anak-anak biasanya diawasi belajar hingga pukul 22.00 atau bahkan lebih karena kesulitan ujian meningkat setiap tahunnya. Tentu saja, alasan utama Singapura memiliki sistem pendidikan yang kuat adalah karena negara tersebut berhenti menjadi bagian dari Federasi Malaysia pada tahun 1965. Tanpa sumber daya alam, pendidikan adalah satu-satunya cara Singapura untuk mencapai kemakmuran. Orang tua pun mengusahakan yang terbaik agar anaknya bisa masuk universitas bergengsi, dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Sedangkan di China, nilai pendidikan sedikit berbeda. Di sana, kata-kata yang dijunjung tinggi yaitu siapa pun bisa belajar, kesuksesan tidak datang dari bakat, tetapi dari usaha. Hal inilah yang memotivasi siswa di China untuk memiliki etos belajar yang tinggi. Misalnya, mereka selalu menunjukkan sikap yang gigih dalam setiap mengikuti pembelajaran.
Ketika menghadapi tes dan mengalami penurunan nilai, tidak membuat mereka menyerah. Sebaliknya, malah menjadi pendorong bagi mereka untuk belajar lebih keras lagi. Hal ini juga didukung dengan metode pengajaran yang berbeda. Guru di China lebih menghargai usaha dan kerja keras daripada kesuksesan itu sendiri. Kegagalan dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan perbaikan. Siswa di sana juga memiliki siswa lain sebagai panutan, dan para siswa menginginkan untuk menjadi seperti mereka. Dengan cara mengikuti strategi belajarnya, atau sekadar belajar lebih keras lagi. Ada keyakinan kuat bahwa dengan kerja keras, siapa pun bisa mendapatkan nilai bagus dalam studinya.
Ketiga, belajar dari kesuksesan negara lain. Apa yang membuat sistem pendidikan yang baik?
Pertama, siapkan anak-anak untuk sekolah. Setiap negara memiliki metode yang berbeda-beda, ada yang menunda usia masuk agar anak bisa belajar banyak kecakapan hidup di luar jam sekolah. Ada juga orang yang memberikan banyak tekanan untuk mendorong anak-anak belajar. Namun, tidak peduli metode apa yang mereka gunakan, mereka tidak akan membiarkan seorang anak masuk ke sekolah tanpa persiapan.
Kedua, kurikulum untuk menjadi ahli. Kesamaan yang dimiliki oleh negara-negara dengan skor kecerdasan tertinggi adalah bahwa kurikulum mereka berfokus pada kedalaman materi daripada berfokus pada jumlah materi. Siswa harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang suatu konsep sebelum guru akhirnya beralih ke topik lain. Bahkan di negara-negara seperti Jepang, China, dan Singapura, mereka menekankan supaya konsep tersebut dapat melekat dalam memori jangka panjang.
Ketiga, menjunjung tinggi martabat profesi guru. Saya pikir itu poin yang paling penting. Di negeri mereka, profesi guru merupakan profesi yang bergengsi dan disegani di masyarakat. Di sisi lain, guru juga berpenghasilan tinggi. Hal terakhir inilah yang mendorong para guru untuk memiliki motivasi intrinsik yang kuat dalam mengajar dan semangat yang luar biasa.
Oke, apa kesimpulannya?
Pertama, berikan siswa bantuan saat dibutuhkan. Ketika seorang siswa membutuhkan perhatian lebih, kebutuhan itu harus dipenuhi. Hal inilah yang pada akhirnya mendorong anak untuk siap sekolah.