"Aku dari kecil diajarin untuk melihat semuanya dengan perspektif yang luas. So, misalnya, bukan berarti aku nggak suka barang-barang bagus, ya. I like nice thing, I like expensive thing. Tapi aku guilty kalau ngebeli sesuatu yang baru atau mahal. Aku mikirnya gini, misalnya tas branded harganya 30 juta. Imagine! Berapa keluarga atau anak yang bisa aku sekolahin atau kasih makan dengan uang 30 juta, dan aku ngepake uang 30 juta itu untuk beli tas, not whort it!"
Perkataan di atas adalah jawaban Cinta Laura yang baru-baru ini sedang viral di media sosial saat ditanya mengapa dia hidup dengan hemat sekali. Siapa sih yang tidak tahu Cinta Laura, seorang artis berprestasi baik di dalam maupun di luar negeri.
Di tengah kehidupan para artis ataupun selebritis yang serba mewah, Cinta Laura memiliki salah satu mindset gaya hidup minimalis.Â
Hal tersebut juga membuktikan bahwa menjadi seorang artis bukan berarti harus selalu bergaya sesuai dengan standar hidup seorang artis pada umumnya.
Gaya hidup minimalis, istilah yang belakangan mulai menjadi tren. Banyak dari kita mungkin tidak lagi asing dengan istilah yang singkatnya dapat kita maknai dengan hidup sederhana.
Bagi saya, gaya hidup minimalis adalah pola pikir (mindset) bagaimana seseorang memaknai dan menjalani kehidupannya dengan sederhana.
Mengapa saya katakan pola pikir? Karena pola pikir adalah pemikiran yang dibentuk dan dipegang oleh seseorang yang dapat memengaruhi dirinya dalam menentukan sikap dan cara pandang terhadap sesuatu.
Sehingga, ketika gaya hidup minimalis telah menjadi pola pikir dari seorang individu, maka ia akan menikmati hidupnya dengan lebih sederhana namun berkualitas.
Dilansir dari glints.com yang mengambil sumber dari Breakthewitch, gaya hidup minimalis adalah konsep menjalani hidup dengan sesedikit dan sesederhana mungkin, akan tetapi dapat bermanfaat secara maksimal.
Gaya hidup minimalis memiliki slogan "less is more" yang bermakna kesederhanaan mengarah pada hasil yang maksimal.
Hidup di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, tantangan untuk hidup minimalis menjadi sangat besar. Kemudahan akses jual beli yang didukung dengan adanya media sosial dan e-commerce menjadikan sifat konsumerisme individu semakin meningkat baik itu disadari ataupun tidak. Strategi pemasaran suatu produk yang terus berinovasi semakin menggiurkan masyarakat untuk lapar belanja.
konsumtif dengan memiliki daya beli yang sangat tinggi akan suatu barang.
Fenomena konsumerisme menjadi salah satu perwujudan berkembangnya teknologi di era digital sekarang ini. Masyarakat menjadiMenurut Sassateli (2007) konsumerisme adalah terus-menerus dan tak henti-hentinya mencari hal baru yang dinilai modis dan modern tetapi sangat berlebihan bahkan tidak diperlukan.
Menurut Baudrillard (1998), masyarakat konsumeris mengonsumsi atau membeli suatu barang lebih melihat pada citra atau pesan yang disampaikan dari suatu produk. Mereka mengonsumsi produk-produk yang dianggap akan menaikkan status sosialnya, bukan pada kegunaan ataupun kebutuhan akan suatu barang.
Sebagai contoh, seseorang membeli mobil mewah dengan harga yang fantastis agar dipandang sebagai orang kaya dan memiliki status sosial tinggi, bukan karena ia benar-benar membutuhkan mobil tersebut.Â
Untuk itu, dalam menghadapi fenomena konsumerisme di era globalisasi saat ini, diperlukan adanya mindset hidup minimalis untuk menciptakan gaya hidup lebih sehat dengan menekan sifat konsumtif pada diri.
Lantas, bagaimana menciptakan mindset gaya hidup minimalis?
Mindset gaya hidup minimalis dapat dibentuk dengan meyakini bahwa kebahagiaan bukan berada pada kepemilikan atas suatu barang, kebahagian bukan berada pada materi.
Selain itu, mindset gaya hidup minimalis juga berfokus pada memberikan dampak yang baik dan bemanfaat untuk orang lain dan lingkungan sekitar.
Untuk memulai gaya hidup minimalis dapat dilakukan dengan memilih dan memilah mana saja barang-barang yang masih dibutuhkan dan tidak lagi dibutuhkan.
Kita dapat membersihkan barang-barang yang sudah tidak terpakai dengan mendaur ulang ataupun memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan agar lebih bermanfaat. Kegiatan ini biasa dikenal dengan decluttering.
Selain itu, menerapkan hidup simple dan tidak boros dengan hanya membeli barang-barang sesuai kebutuhan dan bermanfaat secara maksimal.Â
Perlu juga menekan ego dan hawa nafsu agar dapat terhindar dari sifat materialistis dan hedonis. Hal-hal tersebut perlu kita latih untuk menciptakan gaya hidup minimalis pada diri dan keluarga.
Dengan memiliki mindset dan menerapkan gaya hidup minimalis, maka kita akan merasakan banyak manfaatnya. Salah satu manfaatnya adalah memiliki kesehatan finansial dengan memilih berivestasi untuk masa depan dan juga merasakan kebahagian dengan sering berbagi kepada orang lain.
Salam Hidup Sederhana :)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H