Mendengar itu Anwar terkejut. Dia tidak menyangka kalau orang ini diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang pernah disakiti olehnya, terutama Jamilah. Mental Anwar mendadak begitu ciut, Anwar takut bilamana Rojali mengetahui dirinya tidak pernah ada di masa-masa akhir kehidupan Jamilah dan Thalib.
"Hei nak, tidak perlu merasa bersalah. Mereka sangat bersyukur memiliki seseorang seperti dirimu semasa hidup mereka. Thalib berkata, "kalau dirimu tampak bodoh, ketika menunggu dirinya selama berhari-hari di Bandara Papua. Dia melihat dirimu, tetapi dia terkesan sekali dengan kepedulian dirimu". Ketakutan itu berubah menjadi perasaan haru pada diri Anwar, matanya berkedip-kedip, mencoba menahan isakan tangis yang akan segera keluar.
"Umi-mu, Jamilah, dia berbicara banyak soal dirimu. Panjang sekali nak, aku tidak menyangka dia akan menjadi begitu cerewet ketika membicarakan dirimu" ujar Rojali sambil terkikih.
Anwar yang tadinya tampak muram dan hendak menangis, setelah mendengar mengenai ibunya, Jamilah, mendadak menjadi tertawa. "Hahahaha.. umi ini bisa saja..." ujar Anwar dengan nada lirih, diikuti dengan geliat tawa rendah.
"Di---dia bilang kalau kau semasa kecil pernah buang air besar di depan selokan rumah, karena kamar mandi dipakai oleh Badaruddin untuk bermain kapal-kapalan" lanjut Rojali dengan tertawanya semakin lebar.
"Sudah bi, hentikan.."
"Oh iya satu hal lagi, katanya kau pernah hampir tenggelam dari kolang renang karena terlalu antusias hingga lupa kalau dirimu melompat di kolam renang dengan kedalaman 2 Meter, Umi-mu itu menjerit bukan main, tetapi siapa sangka kalau dirimu kelak akan menjadi juara renang pada tingkat SMA setelahnya. Hahahaha.."
"Hahahaha.." Anwar terkikih dengan air mata yang telah menderai dari kelopak mata. Menyadari itu Anwar mencoba untuk mengusapnya dengan lengan baju, dia tidak ingin terlihat cengeng dihadapan ayahnya yang terkenal akan ketegaran dan ketaguhan. Rojali melihatnya, tetapi dia harus berperilaku lebih bijak dari sebelumnya.
"Tidak apa-apa Anwar, kami semua akan bangga dengan dirimu.." Rojali mendekati Anwar dan mengusap-usap punggung putra sulungnya yang telah dewasa itu.
"Kau memang Anwar kecil yang masih mudah menangis.."
"M-maafkan a--aku bi..."